Tampilkan postingan dengan label #infogizi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #infogizi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 November 2024

Diabetes Mellitus: Memahami dan Mengelola Penyakit Kronis


Apa Itu Diabetes Mellitus?

Diabetes Mellitus, sering dikenal sebagai diabetes, adalah kondisi medis kronis yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproses glukosa darah (gula darah). Glukosa adalah sumber energi utama bagi sel-sel tubuh kita, namun pada penderita diabetes, tubuh tidak dapat menggunakan atau menyimpan glukosa dengan efektif. Ada beberapa tipe diabetes, termasuk Diabetes Tipe 1, Diabetes Tipe 2, dan Diabetes Gestasional yang terjadi selama kehamilan.



Jenis-Jenis Diabetes Mellitus

Diabetes Tipe 1

Diabetes Tipe 1 adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel-sel beta di pankreas yang memproduksi insulin. Insulin adalah hormon yang membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Penderita Diabetes Tipe 1 harus mendapatkan insulin setiap hari untuk mengelola kadar glukosa darah mereka.

Diabetes Tipe 2

Diabetes Tipe 2 adalah tipe yang paling umum dan sering dikaitkan dengan gaya hidup yang tidak sehat. Pada diabetes tipe ini, tubuh masih memproduksi insulin tetapi tidak cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif (resistensi insulin). Faktor risiko termasuk obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan faktor genetik.

Diabetes Gestasional

Diabetes Gestasional terjadi selama kehamilan dan biasanya hilang setelah melahirkan. Namun, wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan Diabetes Tipe 2 di kemudian hari.

Penyebab dan Faktor Risiko Diabetes

Beberapa penyebab dan faktor risiko diabetes adalah:

  1. Genetik: Riwayat keluarga dengan diabetes meningkatkan risiko Anda terkena diabetes.

  2. Obesitas: Kelebihan berat badan adalah salah satu faktor risiko utama, terutama untuk Diabetes Tipe 2.

  3. Gaya Hidup Tidak Sehat: Pola makan yang buruk, kurang olahraga, dan kebiasaan merokok bisa meningkatkan risiko diabetes.

  4. Usia: Risiko Diabetes Tipe 2 meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 45 tahun.

  5. Hipertensi: Tekanan darah tinggi bisa meningkatkan risiko Anda terkena diabetes.

Gejala dan Komplikasi Diabetes Mellitus

Gejala Umum

  1. Sering Buang Air Kecil: Sering merasa ingin buang air kecil, terutama di malam hari.

  2. Rasa Haus yang Berlebihan: Karena sering buang air kecil, tubuh menjadi dehidrasi dan merasa haus terus-menerus.

  3. Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab: Tanpa alasan yang jelas, penderita diabetes bisa mengalami penurunan berat badan.

  4. Kelelahan: Tubuh yang kekurangan energi akan merasa lelah dan lesu sepanjang waktu.

  5. Penglihatan Kabur: Kadar gula darah yang tinggi dapat mempengaruhi penglihatan.

Komplikasi

Jika tidak dikelola dengan baik, diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius:

  1. Penyakit Jantung dan Stroke: Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit kardiovaskular.

  2. Kerusakan Ginjal: Gula darah yang tinggi dapat merusak ginjal dan menyebabkan gagal ginjal.

  3. Gangguan Penglihatan: Retinopati diabetik bisa menyebabkan kebutaan.

  4. Kerusakan Saraf: Neuropati diabetik bisa menyebabkan rasa sakit atau kehilangan sensasi di tangan dan kaki.

  5. Infeksi dan Luka yang Sulit Sembuh: Luka pada penderita diabetes sering sulit sembuh dan rentan terhadap infeksi.

Pengelolaan Diabetes Mellitus

Pengelolaan diabetes membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, termasuk perubahan gaya hidup dan, dalam beberapa kasus, penggunaan obat-obatan. Berikut beberapa langkah penting dalam mengelola diabetes:

  1. Diet Sehat: Makan makanan yang seimbang dengan memperhatikan asupan karbohidrat, lemak, dan protein.

  2. Olahraga Teratur: Aktivitas fisik membantu menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.

  3. Pemantauan Gula Darah: Rutin memantau kadar gula darah sangat penting untuk mengontrol diabetes.

  4. Pengobatan: Penggunaan insulin atau obat antidiabetes lainnya sesuai anjuran dokter.

  5. Pemeriksaan Rutin: Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mendeteksi komplikasi sejak dini.

Pencegahan Diabetes Mellitus

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena diabetes, terutama Diabetes Tipe 2:

  1. Pertahankan Berat Badan Ideal: Mempertahankan berat badan yang sehat bisa menurunkan risiko diabetes.

  2. Diet Seimbang: Konsumsi makanan kaya serat, sayuran, buah-buahan, dan hindari makanan tinggi gula dan lemak.

  3. Aktif Berolahraga: Lakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit setiap hari.

  4. Berhenti Merokok: Merokok bisa meningkatkan risiko diabetes.

  5. Kontrol Tekanan Darah dan Kolesterol: Jaga agar tekanan darah dan kadar kolesterol dalam batas normal.

Kesimpulan

Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Dengan pemahaman yang baik tentang penyakit ini, gejala, komplikasi, dan langkah-langkah pencegahannya, kita dapat mengurangi risiko dan menjalani hidup yang lebih sehat. Penting untuk selalu menjaga gaya hidup sehat dan rutin memeriksakan kesehatan untuk mendeteksi dini dan mengelola diabetes dengan efektif.

FAQ tentang Diabetes Mellitus

1. Apakah diabetes bisa disembuhkan? Diabetes tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dikontrol dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan.

2. Apakah semua penderita diabetes harus menggunakan insulin? Tidak semua. Penggunaan insulin biasanya diperlukan untuk Diabetes Tipe 1 dan beberapa kasus Diabetes Tipe 2 yang tidak bisa dikendalikan dengan obat oral.

3. Apakah anak-anak bisa terkena diabetes? Ya, anak-anak bisa terkena Diabetes Tipe 1. Kasus Diabetes Tipe 2 pada anak-anak juga meningkat akibat obesitas.

4. Bagaimana cara mengetahui jika saya menderita diabetes? Tes darah untuk mengukur kadar gula darah adalah cara terbaik untuk mendiagnosis diabetes.

5. Apakah diabetes gestasional bisa mempengaruhi bayi? Ya, diabetes gestasional yang tidak terkontrol bisa meningkatkan risiko komplikasi pada bayi, seperti berat lahir berlebih.


Diabetes Mellitus: Penyakit yang Perlu Diwaspadai

Apa Itu Diabetes Mellitus?

Diabetes Mellitus, atau yang sering disebut diabetes, adalah kondisi kronis yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengatur kadar gula darah (glukosa). Glukosa adalah sumber energi utama bagi sel-sel tubuh kita, namun pada penderita diabetes, tubuh mereka kesulitan mengelola glukosa dengan benar. Penyakit ini dibedakan menjadi dua tipe utama: Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2, serta ada juga Diabetes Gestasional yang terjadi selama kehamilan.



Jenis-Jenis Diabetes Mellitus

Diabetes Tipe 1

Diabetes Tipe 1 merupakan kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang dan merusak sel beta di pankreas yang bertugas memproduksi insulin. Insulin adalah hormon yang membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Penderita Diabetes Tipe 1 harus mengandalkan suntikan insulin sepanjang hidup mereka.

Diabetes Tipe 2

Diabetes Tipe 2 adalah tipe yang paling umum dan biasanya terjadi pada orang dewasa, meskipun kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja. Pada diabetes tipe ini, tubuh masih memproduksi insulin tetapi tidak cukup atau sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap insulin. Gaya hidup tidak sehat, obesitas, dan faktor genetik sering menjadi penyebab utama.

Diabetes Gestasional

Diabetes Gestasional terjadi selama masa kehamilan dan biasanya hilang setelah melahirkan. Wanita yang mengalami diabetes gestasional memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan Diabetes Tipe 2 di kemudian hari.

Penyebab dan Faktor Risiko Diabetes

Diabetes Mellitus disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa berbeda tergantung pada jenisnya. Berikut beberapa penyebab dan faktor risiko yang umum:

  1. Genetik: Riwayat keluarga dengan diabetes meningkatkan risiko.

  2. Obesitas: Berat badan berlebih adalah salah satu penyebab utama Diabetes Tipe 2.

  3. Gaya Hidup Tidak Sehat: Pola makan buruk, kurang olahraga, dan kebiasaan merokok meningkatkan risiko.

  4. Usia: Risiko Diabetes Tipe 2 meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 45 tahun.

  5. Tekanan Darah Tinggi: Hipertensi dapat meningkatkan risiko terkena diabetes.

Gejala dan Komplikasi Diabetes Mellitus

Gejala Umum

  1. Sering Buang Air Kecil: Penderita diabetes sering merasa ingin buang air kecil, terutama di malam hari.

  2. Rasa Haus yang Berlebihan: Karena sering buang air kecil, tubuh menjadi dehidrasi dan merasa haus terus-menerus.

  3. Penurunan Berat Badan: Tanpa alasan yang jelas, penderita diabetes bisa mengalami penurunan berat badan.

  4. Kelelahan: Tubuh yang kekurangan energi akan merasa lelah dan lesu sepanjang waktu.

  5. Penglihatan Kabur: Kadar gula darah yang tinggi dapat mempengaruhi penglihatan.

Komplikasi

Jika tidak dikelola dengan baik, diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, antara lain:

  1. Penyakit Jantung dan Stroke: Diabetes meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

  2. Kerusakan Ginjal: Gula darah tinggi dapat merusak ginjal dan menyebabkan gagal ginjal.

  3. Gangguan Penglihatan: Retinopati diabetik dapat menyebabkan kebutaan.

  4. Kerusakan Saraf: Neuropati diabetik dapat menyebabkan rasa sakit atau kehilangan sensasi di tangan dan kaki.

  5. Infeksi dan Luka yang Tidak Sembuh: Luka pada penderita diabetes sering sulit sembuh dan rentan terhadap infeksi.

Pengelolaan Diabetes Mellitus

Pengelolaan diabetes memerlukan pendekatan yang menyeluruh, termasuk perubahan gaya hidup dan, dalam beberapa kasus, penggunaan obat-obatan. Berikut beberapa langkah penting dalam pengelolaan diabetes:

  1. Diet Sehat: Konsumsi makanan yang seimbang dengan memperhatikan asupan karbohidrat, lemak, dan protein.

  2. Olahraga Teratur: Aktivitas fisik membantu menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.

  3. Pemantauan Gula Darah: Rutin memantau kadar gula darah sangat penting untuk mengontrol diabetes.

  4. Pengobatan: Penggunaan insulin atau obat antidiabetes lainnya sesuai anjuran dokter.

  5. Pemeriksaan Rutin: Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi komplikasi sejak dini.

Pencegahan Diabetes Mellitus

Meskipun tidak semua jenis diabetes dapat dicegah, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena diabetes, terutama Diabetes Tipe 2:

  1. Pertahankan Berat Badan Ideal: Berat badan yang sehat dapat menurunkan risiko diabetes.

  2. Diet Seimbang: Konsumsi makanan kaya serat, sayuran, buah-buahan, dan hindari makanan tinggi gula dan lemak.

  3. Aktif Berolahraga: Lakukan olahraga setidaknya 30 menit setiap hari.

  4. Berhenti Merokok: Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes.

  5. Kontrol Tekanan Darah dan Kolesterol: Jaga agar tekanan darah dan kadar kolesterol dalam batas normal.

Kesimpulan

Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Dengan pemahaman yang baik tentang penyakit ini, gejala, komplikasi, dan langkah-langkah pencegahannya, kita dapat mengurangi risiko dan menjalani hidup yang lebih sehat. Penting untuk selalu menjaga gaya hidup sehat dan rutin memeriksakan kesehatan untuk mendeteksi dini dan mengelola diabetes dengan efektif.

FAQ tentang Diabetes Mellitus

1. Apakah diabetes bisa disembuhkan? Diabetes tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dikontrol dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan.

2. Apakah semua penderita diabetes harus menggunakan insulin? Tidak semua. Penggunaan insulin biasanya diperlukan untuk Diabetes Tipe 1 dan beberapa kasus Diabetes Tipe 2 yang tidak bisa dikendalikan dengan obat oral.

3. Apakah anak-anak bisa terkena diabetes? Ya, anak-anak bisa terkena Diabetes Tipe 1. Kasus Diabetes Tipe 2 pada anak-anak juga meningkat akibat obesitas.

4. Bagaimana cara mengetahui jika saya menderita diabetes? Tes darah untuk mengukur kadar gula darah adalah cara terbaik untuk mendiagnosis diabetes.

5. Apakah diabetes gestasional bisa mempengaruhi bayi? Ya, diabetes gestasional yang tidak terkontrol bisa meningkatkan risiko komplikasi pada bayi, seperti berat lahir berlebih.


Karbohidrat: Sumber Energi Utama untuk Tubuh Anda

 

Mengapa Karbohidrat Penting untuk Energi?

Karbohidrat adalah makronutrien yang berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh kita. Saat kita mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, tubuh kita memecahnya menjadi glukosa, yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar oleh sel-sel tubuh. Selain memberikan energi, karbohidrat juga penting untuk fungsi otak dan sistem saraf kita. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang peran karbohidrat, jenis-jenisnya, dan bagaimana kita bisa memilih karbohidrat yang tepat untuk diet yang sehat dan seimbang.



Jenis-Jenis Karbohidrat

1. Karbohidrat Sederhana

Karbohidrat sederhana terdiri dari gula-gula sederhana yang mudah dicerna oleh tubuh dan memberikan lonjakan energi cepat. Contoh karbohidrat sederhana termasuk glukosa, fruktosa, dan sukrosa, yang dapat ditemukan dalam gula meja, buah-buahan, dan makanan manis lainnya. Meskipun memberikan energi cepat, konsumsi berlebihan karbohidrat sederhana dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang tidak stabil.

2. Karbohidrat Kompleks

Karbohidrat kompleks terdiri dari rantai gula yang lebih panjang dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh tubuh. Contoh karbohidrat kompleks termasuk pati dan serat, yang dapat ditemukan dalam biji-bijian utuh, sayuran, dan legum. Karbohidrat kompleks memberikan energi yang lebih stabil dan berkelanjutan, serta memiliki manfaat tambahan untuk kesehatan pencernaan.

Manfaat Karbohidrat bagi Kesehatan

Karbohidrat bukan hanya sumber energi; mereka juga memiliki berbagai manfaat kesehatan lainnya:

Sumber Energi Utama

Karbohidrat adalah bahan bakar utama bagi otak dan tubuh kita. Tanpa cukup karbohidrat, kita mungkin merasa lelah, lesu, dan kesulitan berkonsentrasi. Inilah sebabnya mengapa sarapan yang mengandung karbohidrat kompleks sangat penting untuk memulai hari dengan energi.

Menjaga Kesehatan Pencernaan

Karbohidrat kompleks yang kaya serat membantu menjaga kesehatan pencernaan dengan mencegah sembelit dan mempromosikan pergerakan usus yang sehat. Serat juga membantu menjaga rasa kenyang lebih lama, yang dapat membantu dalam pengelolaan berat badan.

Menstabilkan Kadar Gula Darah

Karbohidrat kompleks memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan dengan karbohidrat sederhana, yang berarti mereka menyebabkan lonjakan gula darah yang lebih lambat dan stabil. Ini penting untuk mencegah lonjakan dan penurunan gula darah yang drastis, yang dapat menyebabkan kelelahan dan keinginan untuk ngemil.

Cara Memilih Karbohidrat yang Tepat

Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari karbohidrat, penting untuk memilih sumber yang sehat. Berikut adalah beberapa tips untuk memilih karbohidrat yang baik:

  1. Pilih Karbohidrat Kompleks: Fokus pada karbohidrat kompleks seperti biji-bijian utuh, sayuran, dan buah-buahan. Mereka tidak hanya memberikan energi yang lebih stabil tetapi juga kaya akan nutrisi lainnya.

  2. Hindari Gula Tambahan: Batasi konsumsi gula tambahan yang sering ditemukan dalam minuman manis, kue, dan permen. Gula tambahan dapat menyebabkan lonjakan gula darah dan penambahan berat badan.

  3. Perhatikan Porsi: Meskipun karbohidrat penting, perhatikan porsinya untuk menghindari konsumsi kalori berlebih. Porsi yang seimbang adalah kunci untuk diet yang sehat.

Mitos dan Fakta tentang Karbohidrat

Mitos 1: Karbohidrat Membuat Gemuk

Fakta: Tidak semua karbohidrat sama. Karbohidrat kompleks dapat membantu mengontrol berat badan dengan memberikan rasa kenyang lebih lama. Penting untuk memilih karbohidrat yang tepat dan mengonsumsinya dalam jumlah yang seimbang.

Mitos 2: Diet Rendah Karbohidrat Selalu Lebih Sehat

Fakta: Diet rendah karbohidrat mungkin efektif untuk beberapa orang, tetapi tubuh kita tetap membutuhkan karbohidrat untuk berfungsi optimal. Pilih karbohidrat yang sehat dan seimbang dalam diet Anda untuk mendapatkan manfaat maksimal.

Tips Memasukkan Karbohidrat Sehat dalam Diet Anda

Sarapan dengan Gandum Utuh

Mulailah hari Anda dengan sarapan yang kaya karbohidrat kompleks seperti oatmeal atau roti gandum utuh. Sarapan dengan karbohidrat kompleks akan memberikan energi yang stabil sepanjang pagi.

Tambahkan Sayuran pada Setiap Makan

Sayuran adalah sumber karbohidrat kompleks yang rendah kalori dan kaya nutrisi. Tambahkan sayuran pada setiap makan untuk asupan serat dan vitamin yang lebih baik.

Camilan Sehat dengan Buah

Buah-buahan segar adalah camilan yang sempurna. Mereka memberikan energi cepat dan kaya akan vitamin. Pilihlah buah-buahan yang tinggi serat seperti apel, pir, dan buah beri untuk menjaga rasa kenyang lebih lama.

Ganti Nasi Putih dengan Nasi Merah

Nasi merah lebih kaya serat dibandingkan nasi putih dan memberikan energi yang lebih stabil. Selain itu, nasi merah memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, yang baik untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Kesimpulan

Karbohidrat adalah bagian penting dari diet kita yang tidak boleh diabaikan. Dengan memilih karbohidrat yang sehat dan mengonsumsinya dalam jumlah yang seimbang, kita dapat menikmati energi berkelanjutan dan kesehatan yang lebih baik. Ingatlah untuk selalu memilih karbohidrat kompleks dan menghindari gula tambahan untuk manfaat kesehatan yang optimal.

FAQ tentang Karbohidrat

1. Apa bedanya karbohidrat sederhana dan kompleks? Karbohidrat sederhana cepat dicerna dan memberikan energi cepat, sedangkan karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat dan memberikan energi yang stabil.

2. Apakah saya harus menghindari semua gula? Tidak semua gula buruk. Gula alami dalam buah-buahan baik untuk tubuh, tetapi batasi gula tambahan yang ditemukan dalam makanan olahan.

3. Berapa banyak karbohidrat yang harus saya konsumsi setiap hari? Jumlahnya bervariasi tergantung kebutuhan individu, tetapi sekitar 45-65% dari total kalori harian harus berasal dari karbohidrat.

4. Apakah karbohidrat buruk bagi penderita diabetes? Penderita diabetes harus memilih karbohidrat yang memiliki indeks glikemik rendah dan mengontrol porsi mereka untuk menjaga kadar gula darah stabil.

5. Apakah saya bisa makan karbohidrat saat diet? Ya, pilih karbohidrat kompleks yang sehat dan perhatikan porsi untuk tetap mendapatkan energi tanpa menambah berat badan.


Rabu, 13 November 2024

Diabetes Melitus

  Diabetes Melitus 





Diabetes mellitus didefinisikan sebagai gangguan metabolisme dengan hiperglikemia

kronis dan disfungsi metabolisme makronutrien. Ini disebabkan oleh defisiensi sekresi insulin

atau fungsi insulin, atau keduanya. Berdasarkan sebuah pernyataan oleh Organisasi

Kesehatan Dunia (WHO), prevalensi global diabetes mellitus di antara orang dewasa (di atas

18 tahun) telah meningkat dari 4,7% pada 1980 menjadi 8,5% pada 2014. Dilaporkan,

diabetes juga merupakan penyebab langsung 1,5 juta kematian. Diabetes adalah kondisi

peradangan kronis di mana terdapat peningkatan tingkat sitokin inflamasi, yang

menyebabkan resistensi insulin pada hati, otot rangka, dan endotel pembuluh darah. 

A. Patofisiologi 

Patofisiologi DM 2 terdapat beberapa keadaan yang berperan yaitu resisten insulin
dan disfungsi sel B pankreas (gambar 1).

Gambar 1. Patofisiologi DM 1 dan DM 2

Diabetes mellitus 2 disebabkan karena sel sasaran insulin gagal atau tidak mampu
merespon insulin secara normal. Keadaan ini disebut resistensi insulin. Resistensi insulin
banyak terjadi akibat dari obesitas dan kurangnya aktivitas fisik serta penuaan. Defisiensi 
fungsi insulin pada penderita diabetes mellitus tipe 2 hanya bersifat relatif dan tidak absolut.
Resistensi insulin yang terjadi dalam waktu lama dan tidak ditangani dengan baik pada
perkembangan selanjutnya akan terjadi kerusakan sel – sel B pankreas. Kerusakan sel – sel B pankreas akan terjadi secara progresif seringkali akan menyebabkan defisiensi insulin seingga akhirnya penderita memerlukan insulin eksogen.

B. Faktor resiko

Peningkatan jumlah penderita DM yang sebagian besar DM tipe 2, berkaitan dengan
beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko yang dapat diubah
dan faktor lain. Menurut American Diabetes Association (ADA) bahwa DM berkaitan dengan
faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi riwayat keluarga dengan DM, umur ≥45 tahun,
etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi >4000 gram atau riwayat pernah
menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan beratbadan rendah (<2,5 kg). Faktor
risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25kg/m2 atau lingkar perut ≥80
cm pada wanita dan ≥90 cm pada laki-laki, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemi
dan diet tidak sehat. Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes adalah penderita
polycystic ovary sindrome (PCOS), penderita sindrom metabolik memiliki riwayat toleransi
glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya, memiliki
riwayat penyakit kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau peripheral arterial diseases (PAD),
konsumsi alkohol, faktor stres, kebiasaan merokok, jenis kelamin,konsumsi kopi dan kafein.

  1. Obesitas (kegemukan)

Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada
derajat kegemukan dengan IMT > 23 dapat menyebabkan peningkatan kadar
glukosa darah menjadi 200 mg%.
      
      2. Hipertensi 

Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam
tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.

       3. Dislipidemia

Adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida >
250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya
HDL (< 35 mg/dl) sering didapat pada pasien Diabetes.

        4. Umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Mellitus adalah >
45 tahun.

        5.Faktor Genetik

DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental. Penyakit ini
sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko emperis
dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika
orang tua atau saudara kandung mengalami penyakit ini.

        6. Alkohol dan Rokok 

Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan
frekuensi DM tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan
peningkatan obesitas dan pengurangan ketidakaktifan fisik, faktor-faktor lain yang 
berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional kelingkungan kebarat-
baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam peningkatan DM tipe 2. Alkohol akan menganggu
metabolisme gula darah terutama pada penderita DM, sehingga akan mempersulit
regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Seseorang akan meningkat
tekanan darah apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60ml/hari yang setara
dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.

Faktor resiko penyakit tidak menular, termasuk DM Tipe 2, dibedakan menjadi dua.
Yang pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya umur, faktor genetik, pola makan yang tidak seimbang jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, Indeks Masa Tubuh.

C. Penatalaksanaan Diabetes Melitus 

Prinsip penatalaksanaan diabetes melitus berfokus pada pengelolaan turunnya
morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku. 

1. Diet 

Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran
makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masingmasing individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat 60-70%, lemak 20-25% danprotein 10-15%. Untuk menentukan status gizi, dihitung dengan BMI (Body Mass Indeks). Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang
berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut
IMT = Berat Badan (kg) / Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)

2. Exercise (latihan fisik/olahraga)

Dianjurkan latihan secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit,
yang sifatnya sesuai dengan Continous, Rhythmical, Interval, Progresive, Endurance
(CRIPE). Training sesuai dengan kemampuan pasien. Sebagai contoh adalah olah raga ringan jalan kaki biasa selama 30 menit. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan.
 
3. Pendidikan Kesehatan 

Pendidikan kesehatan sangat penting dalam pengelolaan. Pendidikan kesehatan
pencegahan primer harus diberikan kepada kelompok masyarakat resiko tinggi. Pendidikan kesehatan sekunder diberikan kepada kelompok pasien DM. Sedangkan pendidikan kesehatan untuk pencegahan tersier diberikan kepada pasien yang sudah mengidap DM dengan penyulit menahun.

4. Obat 

Jika pasien telah melakukan pengaturan makan dan latihan fisik tetapi tidak berhasil
mengendalikan kadar gula darah maka dipertimbangkan pemakaian obat hipoglikemik.

Daftar Pustaka 

1. Saedisomeolia, A. et al. Mechanisms of action of ginger in nuclear factor-kappaB
signaling pathways in diabetes. J. Herb. Med. 16, 100239 (2019).

2. Manfredi Tesauro, F. A. M. Pathophysiology of diabetes. The West Indian medical
journal 1, (Elsevier Inc., 2020).

3. Apostolova, N. et al. Mechanisms of action of metformin in type 2 diabetes: Effects on mitochondria and leukocyte-endothelium interactions. Redox Biol. 34, 101517 (2020).

4. Bonaca, M. P. & Creager, M. A. Peripheral Artery Diseases. Braunwald’s Heart
Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine, 2-Volume Set (Elsevier Inc., 2020).
doi:10.1016/B978-0-323-46342-3.00064-5

5. Sarkar, D. & Shetty, K. Diabetes as a Disease of Aging, and the Role of Oxidative
Stress. Aging: Oxidative Stress and Dietary Antioxidants (Elsevier, 2014).
doi:10.1016/B978-0-12-405933-7.00006-8

6. Mather, K. J. et al. Prevalence of Microvascular and Macrovascular Disease in the
Glycemia Reduction Approaches in Diabetes - A Comparative Effectiveness
(GRADE) Study Cohort. Diabetes Res. Clin. Pract. 108235 (2020).
doi:10.1016/j.diabres.2020.108235

7. DeLoach, S. S. & Mohler, E. Atherosclerotic Risk Factors. Rutherford’s Vascular
Surgery (Elsevier Inc., 2010). doi:10.1016/b978-1-4160-5223-4.00029-9

8. Stitziel, N. O., Kanter, J. E. & Bornfeldt, K. E. Emerging Targets for Cardiovascular
Disease Prevention in Diabetes. Trends Mol. Med. 1–14 (2020).
doi:10.1016/j.molmed.2020.03.011

9. Rashedi, V., Iranpour, A., Mohseni, M. & Borhaninejad, V. Risk factors for fall in
elderly with diabetes mellitus type 2. Diabetes Metab. Syndr. Clin. Res. Rev. 13, 2347– 2351 (2019).

10. Evert, A. B. et al. Nutrition therapy recommendations for the management of adults with diabetes. Diabetes Care 36, 3821–3842 (2013).










Apa itu Gizi Seimbang ?

Gizi seimbang adalah konsep yang mengacu pada pola makan yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah yang tepat, agar dapat mendukung kesehatan dan pertumbuhan yang optimal. Gizi yang seimbang mencakup berbagai jenis makanan dari setiap kelompok makanan utama, dengan proporsi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi tubuh. 

Menerapkan pola makan gizi seimbang sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh, meningkatkan energi, mendukung proses metabolisme, dan mencegah berbagai penyakit. Salah satu konsep dasar dari gizi seimbang adalah menciptakan keseimbangan antara jumlah kalori yang masuk ke tubuh dengan kalori yang digunakan untuk aktivitas fisik sehari-hari.

1. **Pentingnya Gizi Seimbang**
Pola makan yang seimbang sangat penting karena tubuh kita memerlukan berbagai jenis zat gizi agar dapat berfungsi dengan baik. Tanpa asupan yang cukup dan seimbang, tubuh bisa mengalami defisiensi nutrisi yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Selain itu, pola makan yang buruk juga dapat meningkatkan risiko penyakit seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, hipertensi, dan gangguan pencernaan.

2. **Komponen Gizi Seimbang**
Ada beberapa komponen utama dalam gizi seimbang yang perlu dipenuhi oleh tubuh. Masing-masing komponen ini memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya saling mendukung untuk menjaga tubuh tetap sehat. Komponen tersebut meliputi:

a. **Karbohidrat**
Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi tubuh. Makanan yang mengandung karbohidrat antara lain nasi, roti, pasta, kentang, dan buah-buahan. Karbohidrat akan diubah menjadi glukosa yang digunakan sebagai bahan bakar untuk berbagai aktivitas tubuh. Namun, penting untuk memilih karbohidrat kompleks (seperti nasi merah, gandum utuh, atau kentang) yang mengandung serat lebih banyak, dibandingkan karbohidrat sederhana (seperti gula dan makanan manis).

b. **Protein**
Protein dibutuhkan untuk memperbaiki sel-sel tubuh dan mendukung pertumbuhan otot. Sumber protein bisa berasal dari hewan maupun nabati, seperti daging, ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Protein juga penting untuk sistem kekebalan tubuh dan proses metabolisme.

c. **Lemak Sehat**
Lemak memiliki peran penting dalam tubuh sebagai sumber energi cadangan dan membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K. Pilihlah lemak sehat yang berasal dari minyak zaitun, alpukat, ikan berlemak, dan kacang-kacangan. Hindari lemak trans dan lemak jenuh yang banyak ditemukan pada makanan olahan dan fast food.

d. **Vitamin dan Mineral**
Vitamin dan mineral adalah nutrisi mikronutrien yang sangat penting meskipun dibutuhkan dalam jumlah kecil. Mereka mendukung berbagai fungsi tubuh, seperti menjaga kesehatan kulit, memperkuat tulang, dan memperlancar proses pencernaan. Beberapa vitamin dan mineral yang penting bagi tubuh antara lain vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, magnesium, dan kalium. Vitamin dan mineral banyak ditemukan pada sayur-sayuran, buah-buahan, dan produk susu.

e. **Serat**
Serat adalah bagian dari makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh, tetapi memiliki banyak manfaat. Serat membantu menjaga kesehatan pencernaan, mencegah sembelit, serta mengatur kadar gula darah dan kolesterol. Serat banyak ditemukan pada buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

f. **Air**
Air adalah komponen penting yang sering kali terabaikan. Tubuh kita terdiri dari sekitar 60% air, dan air memiliki banyak fungsi vital, seperti mengatur suhu tubuh, membawa nutrisi ke sel-sel tubuh, dan membantu proses pembuangan racun melalui urin. Pastikan untuk minum cukup air setiap hari, sekitar 8 gelas atau lebih, tergantung pada aktivitas fisik dan kebutuhan tubuh.

3. **Cara Menerapkan Pola Makan Gizi Seimbang**
Untuk menerapkan pola makan gizi seimbang, kita perlu memperhatikan beberapa hal penting berikut ini:

- **Variasi makanan**: Makanlah berbagai jenis makanan dari setiap kelompok, agar tubuh mendapatkan semua zat gizi yang dibutuhkan. Jangan terlalu bergantung pada satu jenis makanan saja.
  
- **Porsi yang tepat**: Porsi makan yang seimbang penting untuk mengatur asupan kalori. Gunakan piring dengan porsi yang tepat, di mana setengah piring berisi sayuran atau buah-buahan, seperempat piring berisi karbohidrat, dan seperempat piring lainnya berisi sumber protein.

- **Hindari makanan olahan berlebihan**: Makanan cepat saji atau olahan sering kali mengandung lemak jenuh, gula, dan garam yang berlebihan. Sebaiknya, konsumsi makanan segar dan masak makanan sendiri agar dapat mengontrol bahan yang digunakan.

- **Kombinasikan dengan aktivitas fisik**: Gizi seimbang harus didukung dengan aktivitas fisik yang cukup. Olahraga teratur membantu tubuh memanfaatkan nutrisi dengan lebih efisien dan menjaga keseimbangan berat badan.

 4. **Kesalahan yang Sering Terjadi**
Meskipun penting, banyak orang yang sering kali tidak menerapkan pola makan gizi seimbang dengan benar. Beberapa kesalahan umum antara lain:

- **Mengabaikan sayur dan buah**: Banyak yang kurang mengonsumsi sayur dan buah, yang kaya akan vitamin, mineral, dan serat.
  
- **Terlalu banyak makanan tinggi kalori**: Makanan yang tinggi kalori, seperti makanan manis dan gorengan, jika dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan peningkatan berat badan yang tidak sehat.

- **Menghindari lemak sepenuhnya**: Lemak memang harus dikonsumsi dalam jumlah yang tepat, tetapi menghindari lemak sama sekali juga tidak baik. Tubuh memerlukan lemak sehat untuk fungsi organ dan sistem tubuh yang optimal.

5. **Kesimpulan**
Gizi seimbang adalah dasar dari pola makan sehat yang membantu tubuh mendapatkan semua zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh, berkembang, dan berfungsi dengan baik. Dengan mengonsumsi berbagai makanan dari kelompok yang berbeda dan dalam proporsi yang tepat, serta menjaga keseimbangan antara asupan kalori dan aktivitas fisik, kita dapat menjaga kesehatan tubuh dan mencegah berbagai penyakit.


Menjaga pola makan gizi seimbang bukan hanya soal menghindari makanan tidak sehat, tetapi juga tentang menikmati makanan yang bergizi dengan cara yang menyenangkan dan bervariasi. Jadi, pastikan untuk selalu memperhatikan pola makan Anda dan ciptakan kebiasaan makan yang sehat untuk kehidupan yang lebih baik!


Selasa, 09 Juni 2020

Sel kompeten

     


 

1. 1. Kompeten merupakan sel bakteri yang telah mengalami suatu perlakuan fisik sehingga dapat memperoleh kemampuan untuk mengambil DNA asing.

Salah satu metode sederhana untuk membuat sel menjadi kompeten (siap untuk ditransformasi) dengan cara merendam sel bakteri ke dalam larutan garam dalam kondisi dingin, contohnya kalsium klorida (CaCl2). Larutan garam ini dapat mengikat DNA dan komponen lipopolisakarida dari dinding sel bakteri yang bermuatan negatif, sehinga DNA terikat dengan dinding sel bakteri. Selain itu, larutan lain yang dapat digunakan untuk pembuatan sel kompeten adalah polietilene glikol.

2. Transformasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu heatshock atau kejutan panas, elektroporasi, dan coldshock atau kejutan dingin. Metode kejutan panas merupakan metode transformasi yang paling mudah dilakukan dibandingkan metode lainnya. Metode ini menggunakan prinsip kejutan suhu, yaitu 420C, selama 90 detik atau 120 detik sehingga dinding sel bakteri terbuka dan plasmid dapat masuk dalam sel.

Bakteri normal diberi perlakuan CaCl2 akan menjadi sel kompeten. Ketika diberi heatshock, plasmid yang menempel pada dinding sel bakteri akan masuk ke dalam sel.

(Kiri) Pada eukariota dan bakteri, faktor transkripsi syok panas diatur oleh molekul pendamping. Pada bakteri Gram-negatif, Hsp70 dan Homolog Hsp40, DnaK dan DnaJ, mengikat faktor transkripsi s32, menonaktifkannya dan memulai degradasi cepatnya melalui FtsH AAA-protease. Setelah stres panas, chaperone terlibat dalam kompleks dengan protein yang tidak dilipat dan karenanya tidak lagi tersedia untuk membentuk kompleks dengan s32. Akibatnya, s32 aktif, mengikat RNA polimerase, dan menstimulasi transkripsi gen kejut panas.

(Kanan) Pada eukariota, bentuk penyimpanan transkripsi spesifik peredam panas faktor Hsf1 dipertahankan dalam bentuk monomer yang tidak aktif dalam kompleks dengan pendamping Hsp70 dan Hsp90. Seperti dalam kasus sistem prokariotik, titrasi chaperone oleh protein masif yang berlangsung pada tekanan proteotoksik akan menghasilkan pelepasan Hsf1 dari inaktivasi chaperone. Monomer Hsf1 kemudian trimerizes, diangkut ke dalam nukleus, hyperphosphorylated, sumoylated, dan mengaktifkan transkripsi gen kejut panas

DAFTAR PUSTAKA

Klaus Richter, Martin Haslbeck and Johannes Buchner (2010). The Heat Shock Response: Life on the Verge of Death. Molecular Cell 40.

Mieko Higuchi‐Takeuchi, Kumiko Morisaki dan Keiji Numata (2019). Method for the facile transformation of marine purple photosynthetic bacteria using chemically competent cells. Microbiology Open 9:e953



Sabtu, 22 Februari 2020

Daftar Direktori Jurnal (Gizi)



Ada banyak direktori jurnal, hanya saja saya list dibawah ini yang sering saya gunakan saja. Tidak semuanya full akses, silahkan dicari sendiri.. semoga bermanfaat



1. Science Direct
Science Direct is an untapped resource with millions of experts ...
http://sciencedirect.com

2. PubMed
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/

3. Google Scholar
http://scholar.google.com
4. Microsoft Academic
https://academic.microsoft.com/

5. Directory of Open Access Journal (DOAJ)
https://doaj.org/

  6. Proquest
search.proquest.com

7. Clinical Key
https://www.clinicalkey.com/#!/browse/journals

8. Mendeley

http://mendeley.com

Mendeley adalah penemuan paling mutakhir abad ini di bidang IT yang menunjang untuk akademik, bagaimana tidak, dengan software ini anda dapat mengatur dengan rapi segala file yang anda gunakan untuk menyusun karya ilmiah dan secara otomatis mengatur forat referensi dalam berbagai versi (harvard, vancouver, dsb).

Tidak hanya itu, sekarang Mendeley dilengkapi dengan mesin pencari artikel jurnal. meskipun tidak selengkap direktori lainnya setidaknya Mendeley berhasil menyajikan semua artikelnya dalam full text. Anda harus menginstall terlebih dahulu di PC atau Smartphone sebelum menggunakannya, meskipun sebenarnya langsung dari webnya juga bisa.


9. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI)
http://e-resources.perpusnas.go.id


Perpustakaan Republik Indonesia melanggan berbagai bahan perpustakaan digital online (e-Resources) seperti jurnal , ebook, dan karya-karya referensi online lainnya. Untuk dapat mengakses anda harus terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota. berikut daftar direktori dan jurnal yang dilanggan

10. Portal Garuda
portalgaruda.org

11. Indonesian Scientific Journal Database (ISJD)
http://isjd.pdii.lipi.go.id/

12. Onesearch
onesearch.id

13. Scimago
https://www.scimagojr.com/

Cara Ampuh Mengatasi Batuk dan Tenggorokan Gatal dengan Kencur

Batuk yang disertai rasa gatal di tenggorokan bisa sangat mengganggu aktivitas harian. Tidak hanya membuat Anda merasa tidak nyaman, tetapi ...