Tampilkan postingan dengan label #kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2024

Diabetes Melitus

  Diabetes Melitus 





Diabetes mellitus didefinisikan sebagai gangguan metabolisme dengan hiperglikemia

kronis dan disfungsi metabolisme makronutrien. Ini disebabkan oleh defisiensi sekresi insulin

atau fungsi insulin, atau keduanya. Berdasarkan sebuah pernyataan oleh Organisasi

Kesehatan Dunia (WHO), prevalensi global diabetes mellitus di antara orang dewasa (di atas

18 tahun) telah meningkat dari 4,7% pada 1980 menjadi 8,5% pada 2014. Dilaporkan,

diabetes juga merupakan penyebab langsung 1,5 juta kematian. Diabetes adalah kondisi

peradangan kronis di mana terdapat peningkatan tingkat sitokin inflamasi, yang

menyebabkan resistensi insulin pada hati, otot rangka, dan endotel pembuluh darah. 

A. Patofisiologi 

Patofisiologi DM 2 terdapat beberapa keadaan yang berperan yaitu resisten insulin
dan disfungsi sel B pankreas (gambar 1).

Gambar 1. Patofisiologi DM 1 dan DM 2

Diabetes mellitus 2 disebabkan karena sel sasaran insulin gagal atau tidak mampu
merespon insulin secara normal. Keadaan ini disebut resistensi insulin. Resistensi insulin
banyak terjadi akibat dari obesitas dan kurangnya aktivitas fisik serta penuaan. Defisiensi 
fungsi insulin pada penderita diabetes mellitus tipe 2 hanya bersifat relatif dan tidak absolut.
Resistensi insulin yang terjadi dalam waktu lama dan tidak ditangani dengan baik pada
perkembangan selanjutnya akan terjadi kerusakan sel – sel B pankreas. Kerusakan sel – sel B pankreas akan terjadi secara progresif seringkali akan menyebabkan defisiensi insulin seingga akhirnya penderita memerlukan insulin eksogen.

B. Faktor resiko

Peningkatan jumlah penderita DM yang sebagian besar DM tipe 2, berkaitan dengan
beberapa faktor yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah, faktor risiko yang dapat diubah
dan faktor lain. Menurut American Diabetes Association (ADA) bahwa DM berkaitan dengan
faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi riwayat keluarga dengan DM, umur ≥45 tahun,
etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi >4000 gram atau riwayat pernah
menderita DM gestasional dan riwayat lahir dengan beratbadan rendah (<2,5 kg). Faktor
risiko yang dapat diubah meliputi obesitas berdasarkan IMT ≥25kg/m2 atau lingkar perut ≥80
cm pada wanita dan ≥90 cm pada laki-laki, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemi
dan diet tidak sehat. Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes adalah penderita
polycystic ovary sindrome (PCOS), penderita sindrom metabolik memiliki riwayat toleransi
glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya, memiliki
riwayat penyakit kardiovaskuler seperti stroke, PJK, atau peripheral arterial diseases (PAD),
konsumsi alkohol, faktor stres, kebiasaan merokok, jenis kelamin,konsumsi kopi dan kafein.

  1. Obesitas (kegemukan)

Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada
derajat kegemukan dengan IMT > 23 dapat menyebabkan peningkatan kadar
glukosa darah menjadi 200 mg%.
      
      2. Hipertensi 

Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam
tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.

       3. Dislipidemia

Adalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida >
250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya
HDL (< 35 mg/dl) sering didapat pada pasien Diabetes.

        4. Umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Mellitus adalah >
45 tahun.

        5.Faktor Genetik

DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental. Penyakit ini
sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Risiko emperis
dalam hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika
orang tua atau saudara kandung mengalami penyakit ini.

        6. Alkohol dan Rokok 

Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan
frekuensi DM tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan
peningkatan obesitas dan pengurangan ketidakaktifan fisik, faktor-faktor lain yang 
berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional kelingkungan kebarat-
baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam peningkatan DM tipe 2. Alkohol akan menganggu
metabolisme gula darah terutama pada penderita DM, sehingga akan mempersulit
regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Seseorang akan meningkat
tekanan darah apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60ml/hari yang setara
dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.

Faktor resiko penyakit tidak menular, termasuk DM Tipe 2, dibedakan menjadi dua.
Yang pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya umur, faktor genetik, pola makan yang tidak seimbang jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, Indeks Masa Tubuh.

C. Penatalaksanaan Diabetes Melitus 

Prinsip penatalaksanaan diabetes melitus berfokus pada pengelolaan turunnya
morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku. 

1. Diet 

Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran
makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masingmasing individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat 60-70%, lemak 20-25% danprotein 10-15%. Untuk menentukan status gizi, dihitung dengan BMI (Body Mass Indeks). Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang
berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut
IMT = Berat Badan (kg) / Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)

2. Exercise (latihan fisik/olahraga)

Dianjurkan latihan secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit,
yang sifatnya sesuai dengan Continous, Rhythmical, Interval, Progresive, Endurance
(CRIPE). Training sesuai dengan kemampuan pasien. Sebagai contoh adalah olah raga ringan jalan kaki biasa selama 30 menit. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan.
 
3. Pendidikan Kesehatan 

Pendidikan kesehatan sangat penting dalam pengelolaan. Pendidikan kesehatan
pencegahan primer harus diberikan kepada kelompok masyarakat resiko tinggi. Pendidikan kesehatan sekunder diberikan kepada kelompok pasien DM. Sedangkan pendidikan kesehatan untuk pencegahan tersier diberikan kepada pasien yang sudah mengidap DM dengan penyulit menahun.

4. Obat 

Jika pasien telah melakukan pengaturan makan dan latihan fisik tetapi tidak berhasil
mengendalikan kadar gula darah maka dipertimbangkan pemakaian obat hipoglikemik.

Daftar Pustaka 

1. Saedisomeolia, A. et al. Mechanisms of action of ginger in nuclear factor-kappaB
signaling pathways in diabetes. J. Herb. Med. 16, 100239 (2019).

2. Manfredi Tesauro, F. A. M. Pathophysiology of diabetes. The West Indian medical
journal 1, (Elsevier Inc., 2020).

3. Apostolova, N. et al. Mechanisms of action of metformin in type 2 diabetes: Effects on mitochondria and leukocyte-endothelium interactions. Redox Biol. 34, 101517 (2020).

4. Bonaca, M. P. & Creager, M. A. Peripheral Artery Diseases. Braunwald’s Heart
Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine, 2-Volume Set (Elsevier Inc., 2020).
doi:10.1016/B978-0-323-46342-3.00064-5

5. Sarkar, D. & Shetty, K. Diabetes as a Disease of Aging, and the Role of Oxidative
Stress. Aging: Oxidative Stress and Dietary Antioxidants (Elsevier, 2014).
doi:10.1016/B978-0-12-405933-7.00006-8

6. Mather, K. J. et al. Prevalence of Microvascular and Macrovascular Disease in the
Glycemia Reduction Approaches in Diabetes - A Comparative Effectiveness
(GRADE) Study Cohort. Diabetes Res. Clin. Pract. 108235 (2020).
doi:10.1016/j.diabres.2020.108235

7. DeLoach, S. S. & Mohler, E. Atherosclerotic Risk Factors. Rutherford’s Vascular
Surgery (Elsevier Inc., 2010). doi:10.1016/b978-1-4160-5223-4.00029-9

8. Stitziel, N. O., Kanter, J. E. & Bornfeldt, K. E. Emerging Targets for Cardiovascular
Disease Prevention in Diabetes. Trends Mol. Med. 1–14 (2020).
doi:10.1016/j.molmed.2020.03.011

9. Rashedi, V., Iranpour, A., Mohseni, M. & Borhaninejad, V. Risk factors for fall in
elderly with diabetes mellitus type 2. Diabetes Metab. Syndr. Clin. Res. Rev. 13, 2347– 2351 (2019).

10. Evert, A. B. et al. Nutrition therapy recommendations for the management of adults with diabetes. Diabetes Care 36, 3821–3842 (2013).










Cara Ampuh Mengatasi Batuk dan Tenggorokan Gatal dengan Kencur

Batuk yang disertai rasa gatal di tenggorokan bisa sangat mengganggu aktivitas harian. Tidak hanya membuat Anda merasa tidak nyaman, tetapi ...