Perubahan-perubahan dalam gaya hidup berhubungan dengan peningkatan
frekuensi DM tipe 2. Walaupun kebanyakan peningkatan ini dihubungkan dengan
peningkatan obesitas dan pengurangan ketidakaktifan fisik, faktor-faktor lain yang
berhubungan dengan perubahan dari lingkungan tradisional kelingkungan kebarat-
baratan yang meliputi perubahan-perubahan dalam konsumsi alkohol dan rokok, juga berperan dalam peningkatan DM tipe 2. Alkohol akan menganggu
metabolisme gula darah terutama pada penderita DM, sehingga akan mempersulit
regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan darah. Seseorang akan meningkat
tekanan darah apabila mengkonsumsi etil alkohol lebih dari 60ml/hari yang setara
dengan 100 ml proof wiski, 240 ml wine atau 720 ml.
Faktor resiko penyakit tidak menular, termasuk DM Tipe 2, dibedakan menjadi dua.
Yang pertama adalah faktor risiko yang tidak dapat berubah misalnya umur, faktor genetik, pola makan yang tidak seimbang jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, Indeks Masa Tubuh.
C. Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Prinsip penatalaksanaan diabetes melitus berfokus pada pengelolaan turunnya
morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.
1. Diet
Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran
makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masingmasing individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin. Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat 60-70%, lemak 20-25% danprotein 10-15%. Untuk menentukan status gizi, dihitung dengan BMI (Body Mass Indeks). Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang
berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut
IMT = Berat Badan (kg) / Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m)
2. Exercise (latihan fisik/olahraga)
Dianjurkan latihan secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit,
yang sifatnya sesuai dengan Continous, Rhythmical, Interval, Progresive, Endurance
(CRIPE). Training sesuai dengan kemampuan pasien. Sebagai contoh adalah olah raga ringan jalan kaki biasa selama 30 menit. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan.
3. Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan sangat penting dalam pengelolaan. Pendidikan kesehatan
pencegahan primer harus diberikan kepada kelompok masyarakat resiko tinggi. Pendidikan kesehatan sekunder diberikan kepada kelompok pasien DM. Sedangkan pendidikan kesehatan untuk pencegahan tersier diberikan kepada pasien yang sudah mengidap DM dengan penyulit menahun.
4. Obat
Jika pasien telah melakukan pengaturan makan dan latihan fisik tetapi tidak berhasil
mengendalikan kadar gula darah maka dipertimbangkan pemakaian obat hipoglikemik.
Daftar Pustaka
1. Saedisomeolia, A. et al. Mechanisms of action of ginger in nuclear factor-kappaB
signaling pathways in diabetes. J. Herb. Med. 16, 100239 (2019).
2. Manfredi Tesauro, F. A. M. Pathophysiology of diabetes. The West Indian medical
journal 1, (Elsevier Inc., 2020).
3. Apostolova, N. et al. Mechanisms of action of metformin in type 2 diabetes: Effects on mitochondria and leukocyte-endothelium interactions. Redox Biol. 34, 101517 (2020).
4. Bonaca, M. P. & Creager, M. A. Peripheral Artery Diseases. Braunwald’s Heart
Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine, 2-Volume Set (Elsevier Inc., 2020).
doi:10.1016/B978-0-323-46342-3.00064-5
5. Sarkar, D. & Shetty, K. Diabetes as a Disease of Aging, and the Role of Oxidative
Stress. Aging: Oxidative Stress and Dietary Antioxidants (Elsevier, 2014).
doi:10.1016/B978-0-12-405933-7.00006-8
6. Mather, K. J. et al. Prevalence of Microvascular and Macrovascular Disease in the
Glycemia Reduction Approaches in Diabetes - A Comparative Effectiveness
(GRADE) Study Cohort. Diabetes Res. Clin. Pract. 108235 (2020).
doi:10.1016/j.diabres.2020.108235
7. DeLoach, S. S. & Mohler, E. Atherosclerotic Risk Factors. Rutherford’s Vascular
Surgery (Elsevier Inc., 2010). doi:10.1016/b978-1-4160-5223-4.00029-9
8. Stitziel, N. O., Kanter, J. E. & Bornfeldt, K. E. Emerging Targets for Cardiovascular
Disease Prevention in Diabetes. Trends Mol. Med. 1–14 (2020).
doi:10.1016/j.molmed.2020.03.011
9. Rashedi, V., Iranpour, A., Mohseni, M. & Borhaninejad, V. Risk factors for fall in
elderly with diabetes mellitus type 2. Diabetes Metab. Syndr. Clin. Res. Rev. 13, 2347– 2351 (2019).
10. Evert, A. B. et al. Nutrition therapy recommendations for the management of adults with diabetes. Diabetes Care 36, 3821–3842 (2013).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar