World
Health Organization menciptakan definisi metabolic syndrome (MetS) pertama yang diakui secara internasional pada
tahun 1998, MetS merupakan resistensi
insulin (gangguan puasa, gangguan toleransi glukosa, atau diabetes mellitus
tipe 2) selain dua dari faktor risiko berikut: obesitas (rasio pinggang-pinggul
atau indeks massa tubuh), hiperlipidemia (hipertensi gliseridemia, berkurangnya
high-density lipoprotein [HDL]), hipertensi, atau mikrobuminuria1. Beberapa fator resiko yang
menunjukan MetS berupa dari faktor keturunan, merokok, bertambahnya usia,
obesitas, kurangnya aktivitas fisik, mengonsumsi minuman bergula terlalu
banyak, mengonsumsi alkohol2 dan dapat terpapar oleh senyawa
kimia perfluoroalky3. Mets disebabkan oleh
peningkatan lemak visceral sintesis sitokin proinflamasi, yang menghasilkan
pengembangan spesies oksigen reaktif (ROS), faktor trombotik dan aterogenik,
yang semuanya merupakan kondisi Mets. Sementara itu, data yang ada menunjukkan
bahwa kejadian MetS meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan di dunia dan
Iran. Prevalensi MetS telah dilaporkan lebih tinggi di Iran dibandingkan dengan
negara-negara Asia dan Eropa lainnya. Prevalensi MetS meningkat dengan
bertambahnya usia, dan mencapai puncaknya pada dekade kelima kehidupan4.
Menurut
data National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES), selama
1988-2010, IMT rata-rata di Amerika Serikat meningkat sebesar 0,37% per tahun
pada pria dan wanita, dan lingkar pinggang (WC) meningkat masing-masing sebesar
0,37 dan 0,27% per tahun pada wanita. Menurut data Centers for Disiase Control
(CDC) yang diterbitkan pada tahun 2017, sekitar 30,2 juta orang dewasa berusia
18 tahun atau lebih atau 12,2% dari orang dewasa Amerika Serikat memiliki
diabetes tipe 2 (T2DM). Seperempat dari orang-orang ini (23,8%) tidak menyadari
diabetes. Insidensi T2DM meningkat dengan usia, mencapai tinggi 25,2% di Amerika
Serikat (65 tahun atau lebih). Prevalensi pradiabetes atau MetS adalah sekitar
tiga kali lebih banyak. Jadi, sekitar sepertiga dari orang dewasa AS memiliki
sindrom metabolik5.
Patogenesis
sindrom metabolik oleh resistensi insulin dalam sirkulasi asam lemak bebas
(FFA) memainkan peran penting dalam patogenesis MetS. Insulin meningkatkan
penyerapan glukosa di otot dan hati, sehingga menghambat lipolisis dan
glukoneogenesis hati2. Resistensi insulin dalam
jaringan adiposa merusak penghambatan lipolisis yang dimediasi oleh insuf,
menyebabkan peningkatan sirkulasi FFA yang semakin menghambat efek
antilipolitik insulin. FFA menghambat aktivasi protein kinase pada otot yang
menyebabkan berkurangnya penyerapan glukosa. Aktivasi protein kinase meningkat di
hati sehingga terjadi proses glukogenogenesis dan lipogenesis. Kemudian terjadi
keadaan hiperinsulinemia untuk mempertahankan euglikemia, akhirnya, kompensasi
gagal dan sekresi insulin berkurang. FFA juga bersifat lipotoksik terhadap sel
beta pankreas yang menyebabkan penurunan sekresi insulin. Resistansi insulin
juga berkontribusi terhadap perkembangan hipertensi akibat hilangnya efek
vasodilator insulin dan vasokonstriksi yang disebabkan oleh FFA1.
Patofisiologi sindrom metabolik
Eichelmann
et al. mempelajari hubungan antara diet nabati (diet Nordic, MeDiet, diet
vegetarian, diet nabati, diet Paleolitik, dan DASH) dan penanda pro-inflamasi
terkait obesitas (CRP, IL-6, TNF-α, sICAM-1, leptin, adiponectin, dan resistin)
pada 29 percobaan intervensi dengan total 2.689 peserta. Hasil menunjukkan
peningkatan profil inflamasi terkait obesitas setelah mengikuti diet nabati:
CRP (-0,55 mg / L), IL-6 (-0,25 ng / L), dan sICAM-1 (-25,07 ng / mL). Tidak
ada perubahan signifikan yang diamati untuk TNF-α, resistin, adiponektin, dan
leptin6. Pencegahan metabolik sindrom
dapat dilakukan dengan mengkonsumsi berbagai senyawa alami yang berasal dari
ekstrak tumbuhan, rempah-rempah, dan minyak esensial memiliki manfaat dalam
pengelolaan pasien dengan MetS yang dapat dilihat di tabel berikut.
Daftar Pustaka
1. Rochlani, Y., Pothineni, N. V. &
Kovelamudi, S. Metabolic syndrome : pathophysiology , management , and
modulation by natural compounds. Ther. Adv. Cardiovasc. Dis. Rev. 11,
215–225 (2017).
2. Mccracken,
E., Monaghan, M. & Sreenivasan, S. Pathophysiology of the metabolic
syndrome. Clin. Dermatol. (2017). doi:10.1016/j.clindermatol.2017.09.004
3. Fisher,
M., Arbuckle, T. E., Wade, M. & Haines, D. A. Do perfluoroalkyl substances
affect metabolic function and plasma lipids?-Analysis of the 2007-2009,
Canadian Health Measures Survey (CHMS) Cycle 1. Environ. Res. 121,
95–103 (2013).
4. Bakhtiari,
A., Hajian-Tilaki, K., Omidvar, S. & Nasiri-Amiri, F. Clinical and
metabolic response to soy administration in older women with metabolic
syndrome: A randomized controlled trial. Diabetol. Metab. Syndr. 11,
1–12 (2019).
5. Saklayen,
M. G. The Global Epidemic of the Metabolic Syndrome. 9, 1–8 (2018).
6. Casas,
R., Castro-Barquero, S., Estruch, R. & Sacanella, E. Nutrition and
cardiovascular health. Int. J. Mol. Sci. 19, 1–31 (2018).

