Selasa, 09 Juni 2020

Sel kompeten

     


 

1. 1. Kompeten merupakan sel bakteri yang telah mengalami suatu perlakuan fisik sehingga dapat memperoleh kemampuan untuk mengambil DNA asing.

Salah satu metode sederhana untuk membuat sel menjadi kompeten (siap untuk ditransformasi) dengan cara merendam sel bakteri ke dalam larutan garam dalam kondisi dingin, contohnya kalsium klorida (CaCl2). Larutan garam ini dapat mengikat DNA dan komponen lipopolisakarida dari dinding sel bakteri yang bermuatan negatif, sehinga DNA terikat dengan dinding sel bakteri. Selain itu, larutan lain yang dapat digunakan untuk pembuatan sel kompeten adalah polietilene glikol.

2. Transformasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu heatshock atau kejutan panas, elektroporasi, dan coldshock atau kejutan dingin. Metode kejutan panas merupakan metode transformasi yang paling mudah dilakukan dibandingkan metode lainnya. Metode ini menggunakan prinsip kejutan suhu, yaitu 420C, selama 90 detik atau 120 detik sehingga dinding sel bakteri terbuka dan plasmid dapat masuk dalam sel.

Bakteri normal diberi perlakuan CaCl2 akan menjadi sel kompeten. Ketika diberi heatshock, plasmid yang menempel pada dinding sel bakteri akan masuk ke dalam sel.

(Kiri) Pada eukariota dan bakteri, faktor transkripsi syok panas diatur oleh molekul pendamping. Pada bakteri Gram-negatif, Hsp70 dan Homolog Hsp40, DnaK dan DnaJ, mengikat faktor transkripsi s32, menonaktifkannya dan memulai degradasi cepatnya melalui FtsH AAA-protease. Setelah stres panas, chaperone terlibat dalam kompleks dengan protein yang tidak dilipat dan karenanya tidak lagi tersedia untuk membentuk kompleks dengan s32. Akibatnya, s32 aktif, mengikat RNA polimerase, dan menstimulasi transkripsi gen kejut panas.

(Kanan) Pada eukariota, bentuk penyimpanan transkripsi spesifik peredam panas faktor Hsf1 dipertahankan dalam bentuk monomer yang tidak aktif dalam kompleks dengan pendamping Hsp70 dan Hsp90. Seperti dalam kasus sistem prokariotik, titrasi chaperone oleh protein masif yang berlangsung pada tekanan proteotoksik akan menghasilkan pelepasan Hsf1 dari inaktivasi chaperone. Monomer Hsf1 kemudian trimerizes, diangkut ke dalam nukleus, hyperphosphorylated, sumoylated, dan mengaktifkan transkripsi gen kejut panas

DAFTAR PUSTAKA

Klaus Richter, Martin Haslbeck and Johannes Buchner (2010). The Heat Shock Response: Life on the Verge of Death. Molecular Cell 40.

Mieko Higuchi‐Takeuchi, Kumiko Morisaki dan Keiji Numata (2019). Method for the facile transformation of marine purple photosynthetic bacteria using chemically competent cells. Microbiology Open 9:e953



SDS-PAGE Sampel Terigu

 


Ekstraksi gluten (gliadin) dengan EtOH 60%

Ekstraksi gluten dilakukan dengan menggunakan dua pelarut yang berbeda yaitu etanol 60% dan fosfat buffer salin. Serbuk biscuit yang sudah halus ditimbang sebanyak 1gr kemudian ditambahkan masing-masing 10 mL EtOH 60% dan fosfat buffer salin. Campuran divortex selama 2 menit dan disentrifugasi dengan kecepatan 3000 g x 10 menit. Supernatan yang diperoleh adalah gliadin dan yang fraksi padatnya adalah glutenin. Masing-masing disimpan pada suhu -20C hingga digunakan. (pelarut terbaik EtOH 60%).

 

Preparasi dan Injeksi Sampel

Sebanyak 20 μL sampel dimasukkan ke dalam microtube 0,5 mL dan ditambahkan 40 μL bufer sampel. Tabung kemudian dipanaskan selama 5 menit dalam air mendidih 100°C. Sampel siap diinjeksikan ke dalam sumur menggunakan mikropipet. Pada salah satu sumur, ditempatkan sebanyak 7 μL protein marker. Standar yang digunakan adalah low molecular weight protein (LMW) Fermentas® yang mengandung 7 jenis protein standar yaitu β-galaktosidase (BM: 116 kDa), bovine serum albumin (BM: 66,2 kDa), ovalbumin (BM: 45 kDa), laktase dehidrogenase (BM: 35 kDa), REase BSP 981 (BM: 25 kDa), β-laktoglobulin (BM: 18,4 kDa), dan lisozim (BM: 14,4 kDa).

 

Prosedur lain

Sama seperti biasa

 

 


Selasa, 25 Februari 2020

IMUNITAS SALURAN CERNA NEONATUS


BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
          Imunitas atau kekebalan adalah kemampuan tubuh melawan infeksi meniadakan kerja toksin dan faktor virulen lainnya yang bersifat antigenik dan imunogenik, antigenik adalah sifat suatu senyawa yang mampu merangsang pembentukan antibodi spesifik terhadap senyawa tersebut, sedangkan imunogenik adalah sifat senyawa yang dapat merangsang pembentukan antibodi spesifik yang bersifat protektif dan penongkatan kekebalan seluler, jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang, sehingga membuat patogen, termasuk virus dapat tumbuh dan berkembang dalam tubuh. ( Proitrtt, 2003)

Definisi zat gizi mikro adalah vitamin dan mineral. Walaupun vitamin diperlukan tubuh dalam jumlah kecil namun mempunyai peranan yang penting. Vitamin adalah zat esensial yang diperlukan untuk membantu kelancaran penyerapan zat gizi dan proses metabolisme tubuh. Begitu pula dengan mineral, dalam jumlah kecil beberapa mineral dibutuhkan tubuh untuk menjaga agar organ tubuh berfungsi secara normal. Beberapa mineral juga berfungsi sebagai ko-enzim dan antioksidan. Peran vitamin dan mineral sebagai antioksidan inilah yang membuat vitamin dan mineral mampu memperkuat sistem daya tahan tubuh manusia (sistem imun)
Beberapa mineral juga berfungsi sebagai ko-enzim dan antioksidan. Peran vitamin dan mineral sebagai antioksidan inilah yang membuat vitamin dan mineral mampu memperkuat sistem daya tahan tubuh manusia (sistem imun), Antioksidan adalah zat yang secara signifikan dapat menurunkan efek negatif akibat spesies yang reaktif seperti oksigen reaktif dan nitrogen reaktif yang terbentuk dalam tubuh.
Sistemimunitas atau kekebalan tubuh memerlukan zat gizi antioksidan antara lain untuk memproduksi dan menjaga keseimbangan sel imun (hematopoises), melindungi membran sel dari SOR (vitamin dan mineralsebagai antioksidan), untuk melawan mikroorganisme penyebab penyakit(Imunitas bawaan)Innate adaptif (Wintergerst, at all, 2007)


A.    Rumusan masalah
1.      Pengertian imunitas
2.      Zat gizi mikro yang berfungsi sebgai antioksidan tubuh
3.      Peranan masing-masing zat gizi mikro dalam imunitas tubuh


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Imunitas
Definisi sistem imun adalah Sistem imun (immune system) atau sistem kekebalan tubuh adalah kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, meniadakan kerja toksin dan faktor virulen lainnya yang bersifat antigenik dan imunogenik. Antigen sendiri adalah suatu bahan atau senyawa yang dapat merangsang pembentukan antibodi. Antigen dapat berupa protein, lemak, polisakarida, asam nukleat, lipopolisakarida, lipoprotein dan lain-lain. Sementara itu antigenik adalah sifat suatu senyawa yang mampu merangsang pembentukan antibodi spesifik terhadap senyawa tersebut. Berbicara daya tahan tubuh, kita sering mendengar imunogen yaitu senyawa yang dapat merangsang pembentukan kekebalan/imunitas, dan imunogenik adalah sifat senyawa yang dapat merangsang pembentukan antibodi spesifik yang bersifat protektif dan peningkatan kekebalan seluler. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuan untuk melindungi tubuh juga berkurang, sehingga patogen, termasuk virus dapat tumbuh dan berkembang dalam tubuh. Sedangkan reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya disebut respon imun
B.     Zat gizi mikro yang berfungsi sebgai antioksidan tubuh
Beberapa vitamin dan mineral yang mempunyai peran sebagai antioksidan, diantaranya adalah vitamin A, vitamin E, vitamin C, selenium, zat besi dan zinc.15
Berikut akan diuraikan peranan zat gizi tersebut di atas terhadap sistem imun.
·         Peranan vitamin A dalam sistem imun
         Vitamin A mempunyai peranan penting di dalam pemeliharaan sel epitel. Sel epitel merupakan salah satu jaringan tubuh yang terlibat di dalam fungsi imunitas non-spesifik. Imunitas non-spesifik melibatkan pertahanan fisik seperti kulit, selaput lendir, silia saluran nafas, 17
          Hasil penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak kekurangan vitamin A berisiko menderita penyakit saluran pernafasan dan mengalami keparahan penyakit diare.16,17 Vitamin A juga mempunyai peranan dalam sel-sel mukosa saluran cerna.18 Selain itu kekurangan vitamin A berdampak pada penglihatan yaitu dimulai dengan terganggunya integritas mukosa epitel, yang disebabkan karena hilangnya sel goblet penghasil mukus.19
·         Peranan vitamin C dalam sistem imun
          Vitamin C dikenal sebagai antioksidan yang membantu menetralisir radikal bebas. Vitamin C sebagai antioksidan karena kemampuannya dalam mereduksi beberapa reaksi kimia, salah satunya vitamin C mampu mereduksi spesies oksigen reaktif (SOR). Vitamin C juga mempunyai peran sebagai donor elektron. Kemampuan vitamin C sebagai donor elektron membuat vitamin C menjadi sangat efektif sebagai antioksidan karena vitamin C dapat dengan cepat memutus rantai reaksi SOR (Spesies Oksigen Reaktif) dan SNR (Spesies Nitrogen Reaktif).5
          Winarsi 2007, melaporkan bahwa vitamin C meningkatkan fungsi imun dengan menstimulasi produksi interferon (protein yang melindungi sel dari serangan virus). Interferon adalah salah satu sitokin yang dihasilkan karena adanya komunikasi sel yang baik dan untuk menjaga komunikasi tersebut tetap baik maka diperlukan sel imun yang sehat dengan membran sel yang utuh.26
·         Peranan Selenium dalam sistem imun
        Selenium adalah mineral kelumit yang penting untuk sintesis protein dan aktivitas enzim glutation peroksidase (GSH-PX). Selenium dalam glutation peroksidase mempunyai peranan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida yang terbentuk di dalam tubuh menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang dapat mengoksidasi asam lemak tidak jenuh yang ada pada membran sel, sehingga merusak membran sel.
          Oleh karena itu disebutkan dalam beberapa literatur bahwa selenium bekerjasama dengan vitamin E dan berperan sebagai antioksidan. Kerjasama tersebut terjadi karena vitamin E menjaga membran sel dari radikal bebas dengan melepas ion hidrogennya, sedangkan selenium berperan dalam memecah peroksida menjadi ikatan yang tidak reaktif sehingga tidak merusak asam lemak tidak jenuh yang banyak terdapat dalam membran, membantu mempertahankan integritas membran dan melindungi DNA dari kerusakan.5,23
·         Peranan Zinc dalam sistem imun
          Zinc memegang peranan penting dalam banyak fungsi tubuh, sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor pada kegiatan lebih dari 300 enzim. Zinc juga berperan dalam proliferasi sel terutama sel mukosa.32
          Peran lain dari zinc adalah untuk sintesa protein. Protein merupakan komponen terbesar dalam pembentukan antibodi, maka dari itu keberadaan zinc sangat terkait dengan sistem imun humoral. Zinc juga mempunyai peranan pada produksi sitokin, hal ini terlihat adanya peningkatan produksi IL-2, setelah suplementasi zinc pada orang yang kekurangan zinc. Penurunan zinc juga terlihat mempengaruhi kemampuan sel NK untuk membunuh antigen. Sementara peneliti lain menunjukkan bahwa suplementasi zinc dapat mempercepat penyembuhan disentri pada lansia dan anak-anak, hal ini terkait dengan peranan zinc dalam proliferasi sel.37,38
·         Peranan besi dalam sistem imun
          Seperti kita ketahui bahwa besi sangat berperan dalam sintesa hemoglobin dan terkait erat dengan masalah anemia. Peranan zat besi berhubungan dengan kemampuannya dalam reaksi oksidasi dan reduksi, zat besi merupakan unsur yang sangat reaktif sehingga mampu berinteraksi dengan oksigen. Dalam keadaan teroksidasi, besi kehilangan tiga elektron sehingga memiliki tiga sisa muatan positif (Fe 3+ /feri), .5,35
          Kekurangan besi akan berdampak pada reaksi imunitas berupa aktivitas neutrofil yang menurun, dan sebagai konsekuensinya kemampuan untuk membunuh bakteri intraseluler secara nyata menjadi terganggu. Sel NK sensitif terhadap ketidakseimbangan besi dan memerlukan jumlah besi yang cukup untuk berdiferensiasi dan berproliferasi, jika, tubuh kekurangan besi kemampuan sel NK untuk membunuh bakteri menjadi rendah.31,35


BAB 111
KESIMPULAN
Kecukupan zat gizi terutama vitamin dan mineral sangat diperlukan dalam mempertahankan sistem kekebalan tubuh yang optimal. Karena sebagian besar vitamin dan seluruh mineral tidak dapat disintesa oleh tubuh, maka konsumsi makanan yang beragam dan seimbang sangat diperlukan utamanya sumber vitamin mineral seperti buah, sayuran dan pangan hewani.
           Beberapa vitamin dan mineral mempunyai peran sebagai antioksidan yang sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia diantaranya adalah vitamin A, vitamin E, vitamin C, selenium, zat besi dan zinc. Zat gizi ini diperlukan dalam sistem pertahanan tubuh karena perannya sebagai zat gizi antioksidan.

Cara Ampuh Mengatasi Batuk dan Tenggorokan Gatal dengan Kencur

Batuk yang disertai rasa gatal di tenggorokan bisa sangat mengganggu aktivitas harian. Tidak hanya membuat Anda merasa tidak nyaman, tetapi ...