Interaksi nutrient adalah interaksi
fisika dan kimia antar nutrisi, nutrisi dengan komponen lain dalam makanan atau
nutrisi dengan obat (senyawa kimia lain) yang meliputi efek yang diinginkan dan
tidak diinginkan sedangkan Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan
organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan
kesehatan. Nutrisi didapatkan dari makanan dan cairan yang selanjutnya
diasimilasi oleh tubuh.
Penelitian di bidang nutrisi mempelajari hubungan antara makanan dan minuman
terhadap kesehatan dan penyakit, khususnya dalam menentukan diet yang optimal.
Pada masa lalu, penelitian mengenai nutrisi hanya terbatas pada pencegahan
penyakit kurang gizi dan menentukan standard kebutuhan dasar nutrisi pada
makhluk hidup. Angka kebutuhan nutrisi dasar ini dikenal di dunia internasional
dengan istilah Recommended Daily Allowance (RDA). Seiring dengan perkembangan
ilmiah di bidang medis dan biologi molekular, bukti-bukti medis menunjukkan
bahwa RDA belum mencukupi untuk menjaga fungsi optimal tubuh dan mencegah atau
membantu penanganan penyakit kronis. Bukti-bukti medis menunjukkan bahwa akar
dari banyak penyakit kronis adalah stres oksidatif yang disebabkan oleh
berlebihnya radikal bebas di dalam tubuh.
Penggunaan nutrisi dalam level yang
optimal, dikenal dengan dengan istilah Optimal Daily Allowance (ODA), terbukti
dapat mencegah dan menangani stres oksidatif sehingga membantu pencegahan
penyakit kronis. Level optimal ini dapat dicapai bila jumlah dan komposisi
nutrisi yang digunakan tepat. Dalam penanganan penyakit, penggunaan nutrisi
sebagai pengobatan komplementer dapat membantu efektifitas dari pengobatan dan
pada saat yang bersamaan mengatasi efek samping dari pengobatan. Karena itu,
nutrisi sangat erat kaitannya dengan kesehatan yang optimal dan peningkatan
kualitas hidup.
Nutrisi tidak sekedar apa yang kita makan tetapi lebih merupakan science yang
meliputi interaksi antara organisme hidup dengan makanan. Interaksi meliputi
proses fisiologi seperti memakan, mencerna, penyerapan, transport, dan
penggunaaan makanan tersebut. Nutrisi meliputi aksi-aksi biological dan
interaksi makanan dengan tubuh dan konsekuensinya untuk kesehatan dan penyakit.
Nutrisi juga meliputi factor-faktor fisiologikal, social, cultural, ekonomik,
dan teknologi yang mempengaruhi makanan yang kita makan. Pentingnya maknaan
tergantung pada nutrient yang dikandungnya.
Nutrient atau nutrisi meliputi karbohidrat, protein, lipid, mikronutrient,
makronutrient, vitamin dan mineral.
Vitamin
Vitamin merupakan bahan makanan organik
yang dalam jumlah kecil diperlukan untuk pertumbuhan normal dan kesehatan
tubuh. Jumlah yang diperlukan sehari-hari demikian kecilnya, sehingga dapat
diperkirakan bahwa vitamin bekerja sebagai katalisator. Telah dapat dibuktikan
bahwa beberapa vitamin merupakan bahan esensial pada sistem oksidasi
karbohidrat, protein dan lemak. Tubuh tidak dapat membuat vitamin akan tetapi
harus memilkinya. Terutama organ yang sedang tumbuh sangat rentan akan
defisiensi vitamin.
Vitamin digolongkan dalam 2 golongan,
yaitu:
1.Golongan yang larut dalam air, misal:
vitamin B kompleks dan vitamin C
2.Golongan yang larut dalam lemak,
misal: vitamin A, D, E dan K.
Defisiensi vitamin A (Xeroftalmia)
Defisiensi vitamin A dalam diet
seseorang yang berlangsung lama akan menimbulkan penyakit yang disebut
defisiensi vitamin A atau xeroftalmia. Bersama penyakit Malnutrisi Energi
Protein (MEP), penyakit tersebut merupakan penyakit yang sangat riskan di
antara penyakit gangguan gizi di Indonesia dan di negara-negara berkembang dan
berperan penting sebagai penyebab kebutaan.
Faktor etiologis
Gejala defisiensi vitamin A akan timbul
bilamana:
1.Dalam jangka waktu yang lama dalam
diet terdapat kekurangan vitamin A atau provitamin A.
2.Terdapat gangguan resorpsi vitamin A
atau provitamin A.
3.Terdapat gangguan konversi provitamin
A menjadi vitamin A.
4.Kerusakan hati.
5.Kelainan kelenjar tiroidea.
Peranan vitamin A pada fungsi
penglihatan
Retina mata yang normal mengandung
pigmen yang dikenal sebagai rodopsinatau visual puple. Pigmen tersebut
mengandung vitamin A yang terikat pada protein. Jika mata menerima cahaya maka
akan terjadi konversi rodopsin menjadi visual yellow dan kemudian visual white.
Pada konversi demikian akan menghilang sebagai vitamin A. Regenerasi visual
purple hanya akan terjadi bila tersedia vitamin A. Tanpa regenerasi maka
penglihatan pada cahaya remang setelah mata menerima cahaya yang terang akan
terganggu.
Patologi
Pada defisiensi vitamin A, kelainan yang
dapt timbul pada manusia ialah:
1.Buta senja. Kelainan sebagai akibat
dari gangguan regenerasi rodopsin. Merupakan gejala pertama defisiensi vitamin
A dan timbul sebelum gejala lainnya tampak.
2.Xeroftalmia Dimulai dengan timbulnya
perubahan pada jaringan epitel yang menjadi kering dan keras. Kadang-kadang
terlihat bercak Bitot yang merupakan bercak putih berbuih dan berbentuk
segitiga, terdapat di daerah nasal atau temporal dari kornea mata. Fotofobia
dan konjungtivitis timbul lebih dahulu disusul oleh pigmentasi coklat muda dari
konjungtiva. Perubahan jaringan epitel konjungtiva dapat menjalar ke kornea dan
disusul oleh ulserasi, perforasi dan destruksi total mata (keratomalasia).
Kerusakan demikian dapat timbul dengan cepat, sehingga diagnosis dini dari
tanda-tanda defisiensi tersebut sangat penting.
3.Kelainan kulit Dapat ditemukan
kelainan berupa hiperkeratosis folikularis dan biasanya terdapat pada bagian
lateral dari lengan, tungkai bawah dan bokong.
4.Metaplasia jaringan epitel di bagian
tubuh lain seperti di trakea, pelvis renalis, kelenjar ludah, ureter dan
sebagainya.
5.Konsentrasi vitamin A dan karotin
dalam plasma rendah (normal 30-50 mikrogram per-100 ml untuk vitamin A dan
60-240 gama untuk karotin).
Kebutuhan akan vitamin A.
Food and Nutrition Board of te National
Research Council of the United States of America menganjurkan pemberian vitamin
A dalam diet sebagai berikut:
Bayi : 1.500 SI
Umur 1 – 3 tahun : 2.000 SI
Umur 4 – 6 tahun : 2.500 SI
Umur 7 – 9 tahun : 3.500 SI
Umur 10 – 12 tahun : 4.500 SI
Umur 13 – 19 tahun : 5.000 SI
Defisiensi vitamin B1 (Atiaminosis)
Faktor etiologis.
Defisiensi tiamin menyebabkan penyakit
beri-beri. Pada diet wanita yang sedang mengandung tidak cukup mengandung
vitamin B1, maka anak yang dilahirkan dapat menderita beri-beri kongenital atau
gejala beri-beri akan timbul pada bayi yang sedang disusui.
Penyakit ini dapat juga timbul pada anak
dengan penyakit gastrointestinal yang menahun, misalnya diare kronis dan
sindrom seliak. Gejala penyakit beri-beri pada bayi dan anak umumnya sama
dengan gejala yang terjadi pada orang dewasa. Manifestasi penting ialah
kelainan saraf, mental dan jantung. Kadang-kadang ditemukan kasus beri-beri
bawaan, akan tetapi sebagian besar terdapat dalam triwulan pertama.
Gejala antiaminosis.
1.Beri-beri infantil.
Umumnya ditemukan dalam keadaan akut.
Gejala prodormal ringan saja atau tidak tampak sama sekali. Anak yang tampaknya
sehat selama 1-2 minggu tidak menunjukkan bertambahnya berat badan,
kadang-kadang tampak gelisah, menderita pilek atau diare. Perubahan jantung
datang tiba-tiba dengan takikardia dan dispne yang dapat mengakibatkan kematian
mendadak. Pada pemeriksaan ditemukan jantung yang membesar terutama bagian
kanan. Paru menunjukkan tanda kongesti, kadang-kadang terdapat edema, yang
disertai oliguria sampai anuria. Pada kasus yang lebih menahun terdapat edema
yang jelas, sering ditemukan efusi perikardial dan kadang-kadang asites. Muntah
merupakan gejala yang sering ditemukan. Sistem urat saraf tidak mengalami
banyak perubahan, hanya mungkin ditemukan atonia, refleks lutut mungkin
negatif, meninggi atau berubah. Kadang-kadang terdapat kejang.
2.Kasus menahun sering ditemukan pada
anak yang lebih besar (late infancy dan childhood). Penderita demikian umumnya
lebih kecil dibandingkan anak yang sehat, keadaan gizinya kurang dan tedapat
edema. Sering gejala yang menarik perhatian ialah atonia yang disebabkan oleh
edema pita suara. Kadang-kadang perutnya membuncit karena meteorismus.
Paralisis seperti yang tampak pada orang dewasa jarang terlihat pada anak,
walaupun atonia tampak jelas dan refleks lutut berkurang atau menghilang.
Pencegahan
Diet anak yang baik umumnya mengandung
cukup tiamin. Pemberian vitamin B1 tambahan diperlukan untuk para ibu yang
sedang mengandung atau menyusui. Dianjurkan untuk memberikan 1,8 mg vitamin B1
setiap hari pada para ibu yang sedang mengandung dan 2,3 mg vitamin B1 pada ibu
yang sedang menyusui, 0,4 mg untuk bayi dan 0,6-2 mg pada anak yang lebih
besar. Anak dengan penyakit gastrointestinal menahun atau yang sedang mendapat
makanan parenteral, harus diberi tiamin tambahan.
Pengobatan
Bayi : 5-10 mg/hari
Anak : 10-20 mg/hari
Pengobatan diberikan untuk beberapa
minggu lamanya. Bilamana penderita mengalami diare atau muntah yang lama, maka
vitamin tersebut harus diberikan secara intramuskulus atau intravena. Pada
penderita yang masih mendapat ASI, maka ibunya harus pula diberi vitamin B1
tambahan.
Defisiensi vitamin B2 (Ariboflavinosis)
Faktor etiologis
Gejala defisiensi vitamin B2 akan muncul
jika:
1.Stomatitis angularis. Pada sudut mulut
terdapat maserasi dan retak-retak (fisura) yang memancar ke arah pipi.
Kadang-kadang luka sudut mulut tersebut tertutup keropeng. Jika luka demikian
berulang-ulang timbul pada akhirnya akan menimbulkan jaringan parut.
2.Glositis. Lidah akan kelihatan
berwarna merah jambu dan licin karena struktur papil hilang.
3.Kelainan kulit. Perubahan pada kulit
berupa luka seboroik pada lipatan nasolabial, alae nasi, telinga dan kelopak
mata. Kadang-kadang ditemukan juga dermatitis pada tangan, sekitar vulva, anus
dan perineum.
4.Kelainan mata. Dapat timbul fotofobia,
lakrimasi, perasaan panas. Pada pemeriksaan dengan slitlamp akan tampak
vaskularisasi kornea dan keratitis interstitialis.
Pencegahan dan pengobatan
Ariboflavinosis dapat dicegah dengan
diet yang mengandung cukup susu, telur, sayur-mayur dan daging. Dianjurkan
pemberian sehari-hari 0,6 mg untuk bayi, 1-2 mg untuk anak dan 2-3 mg untuk
dewasa. Pada anak dengan tanda-tanda ariboflavinosis dapat diberikan 10 mg/hari
vitamin B2 untuk beberapa minggu lamanya.
Defisiensi asam folat
Patofisiologis
Bayi yang baru dilahirkan mempunyai
persediaan asam folat yang cukup akan tetapi persediaan tersebut lambat laun
menurun oleh sebab tambahan dari susu tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Tanda defisiensi asam folat dapat timbul pada bayi yang tumbuh cepat, terutama
bayi prematur atau anak dengan kelainan resorpsi.
Gejala
Gejala terpenting adalah timbulnya
anemia makrositik, megaloblastik yang disebabkan kelainan sintesis asam
nukleat. Dapat timbul pula granulositopenia dan trombositopenia. Gejala lainnya
ialah perubahan selaput lendir gastrointestinal yang menimbulkan kelainan
resoprsi dan diare sehingga penderita jadi kurus.
Defisiensi niasin (Pelagra)
Gejala
Terutama dermatitis kadang-kadang
disertai kelainan saraf dan psikis.
Pengobatan
Dapat diberikan niasin 0,02 g/kgbb/hari,
peroral, subkutan atau intramuskular.
Defisiensi vitamin B6
Gejala
Gejala defisiensi piridoksin ialah
cengeng, mudah kaget, kejang (tonik-klonik). Pemberian INH yang lama pada orang
dewasa tanpa tambahan vitamin B6 dapat menimbulkan polineuritis. Ada yang
berpendapat bahwa vitamin B6 dapat menyembuhkan dermatitis seberoik.
Kebutuhan akan vitamin B6
Bayi: 0,2 – 0,5 mg/hari. Anak yang lebih
besar 1,5 – 2 mg/hari. Banyak vitamin B6 yang diperlukan bertalian dengan
banyaknya pemberian protein, sehingga makin besar anak makin banyak vitamin B6
yang diperlukan. Adakalanya terdapat gejala defisiensi vitamin B6 pada seorang
penderita, walaupun makanannya mengandung cukup vitamin B6
Defisiensi vitamin B12
Fisiologi
Vitamin B12 dianggap sebagai komponen
antianemia dalam faktor ekstrinsik. Getah lambung orang normal mengandung
substansi yang disebut faktor intrinsik yang bereaksi dengan faktor ekstrinsik
yang terdapat dalam daging, susu atau bahan makanan lain untuk membuat
substansi antianemia. Faktor antianemia tersebut diserap dan disimpan dalam
hati. Pada anemia pernisiosa biasanya faktor intrinsik tidak terdapat dalam
getah lambung.
Walaupun daging mengandung vitamin B12,
namun tidak dapat digunakan oleh penderita anemia pernisiosa, karena faktor
intrinsik tidak ada. Vitamin B12 terikat pada protein dan hanya dapat dileaskan
oleh faktor intrinsik untuk kemudian diserap.
Patologi
Defisiensi vitamin B12 dapat timbul
bila:
a.Terdapat kekurangan vitamin B12 dalam
diet (seperti orang vegetarian)
b.Tidak terdapat faktor intrinsik
seperti pada penderita anemia pernisiosa
c.Terdapat gangguan resorpsi vitamin
B12.
Gejala
Defisiensi vitamin B12 menimbulkan
anemia dengan gejala lidah yang halus dan mengkilap, tidak terdapat asam
hidroklorida dalam asam lambung (pada penderita anemia pernisiosa), perubahan
saraf, anemia makrositik hiperkromik. Sel darah membesar dan berkurang
jumlahnya. Hal ini disebabkan oleh gangguan pembentukan atau proses pematangan
sel darah merah.
Kebutuhan: 1 – 2 gama/hari.
Pengobatan
Pemberian vitamin B12 pada penderita
anemia pernisiosa akan merangsang sumsum tulang membuat sel darah merah. Pada
anemia makrosistik lain, vitamin B12 akan memberikan perbaikan seperti halnya
dengan asam folat. Vitamin B12 digunakan pula masa rekovalensi penyakit berat
sebagai perangsang metabolisme.
Defisiensi vitamin E
Gejala
Vitamin E digunakan sebagai pencegahan
abortus habitual, partus prematur habitual, juga pada sklerodermia, penyakit
neuromuskulus dan muskulus terutama distrofia muskulorum progresiva. Adakalanya
vitamin E digunakan pada penderita hipoproteinemia karena vitamin E mempunyai
daya anabolik pada metabolisme protein.
MINERAL
Tubuh memerlukan 7 elemen dalam jumlah
besar, yaitu kalsium, klorida, magnesium, kalsium, fosfor, natrium dan sulfur
serta sedikit-dikitnya 7 elemen dalam jumlah kecil (trace elements) seperti
kobalt, tembanga, iodium, besi, mangan, selenium dan seng. Di samping itu krom,
fluor dan molibden berperan penting dalam metabolisme manusia. Keperluan
optimum akan berbagai elemen tersebut belum diketahui. Walaupun trace elements
terdapat dimana-mana, defisiensi elemen tersebut baik pada manusia maupun pada
hewan dapat timbul. Sebaliknya gejala-gejala toksis pada pemberian mineral yang
berlebihan juga pernah terjadi.
Magnesium
Seperti halnya dengan fosfor, mineral
ini diperlukan untuk pembentukan tulang dan terdapat pula pada jaringan lunak.
Magnesium merupakan bahan esensial dari cairan sel. Keperluan akan magnesium
tidak diketahui, akan tetapi susu ibu mengandung cukup magnesium untuk
kebutuhan bayi.
Kalsium dan magnesium adakalanya bekerja
antagonis akan tetapi kadang-kadang dapat saling menggantikan. Pemberian
kalsium dapat menghilangkan depresi pernafasan akibat magnesium, tetapi kedua
mineral tersebut dapat menghilangkan gejala tetani.
Besi
Semua sel mengandung besi, akan tetapi
hemoglobin darah dan otot mempunyai konsentrasi yang tertinggi. Kebutuhan besi
bagi bayi relatif tinggi yaitu karena pertumbuhan yang cepat dari jaringan yang
baru. Diet bayi umumnya tidak mengandung cukup besi untuk memenuhi
kebutuhannya. Sumber utama besi untuk bayi adalah ialah ekses hemoglobin waktu
lahir. Tekanan O2 yang rendah dari sirkulasi plasenta menyebabkan konsentrasi
hemoglobin yang tinggi dalam sel darah merah fetus. Setelah bayi lahir,
paru-paru akan mengembang dan berfungsi sehingga konsentrasi hemoglobin yang
tinggi tidak diperlukan lagi. Hemoglobin yang berlebihan dihancurkan, akan
tetapi besinya akan disimpan dalam hati untuk dipakai kemudian bila diperlukan.
Tambahan besi diperlukan jika bayi berumur 5 bulan.
Bayi prematur lebih cepat menjadi anemis
dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan cukup bulan. Bayi kurang bulan
tersebut, umumnya lebih kecil sehingga dengan sendirinya juga mengandung lebih
sedikit darah. Oleh karena itu jumlah besi yang dapat disimpan juga tidak
begitu banyak. Pertumbuhan bayi prematur yang cepat akan menghabiskan
persediaan besi dengan cepat pula sehingga lebih cepat pula menjadi anemis.
Baik ASI maupun susu sapi tidak mengandung cukup besi untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, sehingga makanan tambahan berupa buah dan sayur harus diberikan
dalam makanan bayi sebelum persediaan besi habis terpakai. Biasanya pemberian
makanan tambahan demikian sudah harus dimulai pada umur 3 bulan. Untuk bayi
prematur hendaknya diberikan tambahan preparat besi peroral atau parenteral.
Biasanya sulfas ferous dan sitras amonium sering digunakan untuk tambahan
tersebut.
Tembaga
Mineral ini diperlukan pada utilitas
besi simpanan dan besi yang diperoleh dari makanan pada konversi menjadi
hemoglobin. Jumlah yang dibutuhkan tidak banyak. Perbandingan tembaga dan besi
1 : 10 dianggap optimum untuk menaikkan kadar hemoglobin. Tembaga sudah
terdapat pada hati bayi baru lahir. Umumnya makanan bayi mengandung cukup
tembaga untuk kebutuhannya.
Selenium
Selenium merupakan mineral yang
tergolong pada trace mineral, karena keberadaannya dalam tubuh sangat sedikit
(jarang). Namun demikian mineral ini terdapat dimana-mana diseluruh jaringan
tubuh seperti tulang, otot dan darah walaupun kandungannya sangat rendah. Kadar
Se yang rendah dalam darah merupakan salah satu indikator yang baik untuk
menentukan status mineral dalam tubuh.
Clark et,al. (1998) mengemukakan bahwa
Selenium merupakan mineral jarang esensial yang dapat meningkatkan fungsi imun
pada ternak, memperbesar neuropsykologic pada manusia dan memperbaiki kondisi
penyakit spesifik pada manusia dan ternak. Keuntungan dari segi kesehatan ini
beberapa penelitian telah dilakukan dengan menggunakan mineral Se untuk melihat
total insiden penyakit kanker dengan pengurangan secara spesifik dari resiko
kanker paru-paru, prostat dan colorectal.
Zink
Zink merupakan komponen penting
metalloenzim, termasuk alkalin pospat, karboksipeptidase, timidin kinase, dan
DNA-RNA polimerase. Zink merupakan komponen penting pada struktur dan fungsi
membran sel, berfungsi sebagai antioksidan, dan melindungi dari serangan
peroksidae lipid. Peranan zink pada sintesis protein dan transkripsi protein,
dimana zinc berperan penting pada regulasi gen. Defisiensi zink dikaitkan
dengan perubahan fungsi sistem immun, seperti menurunnya fungsi sel B dan T,
menurunnya reaksi hipersensitivitas, menurunnya fagositosis dan menurunnya
produksi cytokine.
ASAM AMINO
L-Glutamin
Glutamin merupakan prekursor untuk
sintesis nukleotida, sebagai substrat hepatik glukoneogenesis dan merupakan
nutrisi yang penting dalam penanganan amonia renal. Glutamin juga merupakan
sumber bahan bakar bagi sel yang mengalami pembelahan sangat cepat seperti
epitel saluran pencernaan, limfosit, fibroblas dan retikulosit.
PERAN MIKRONUTRIEN PADA RESPONS IMUN
Peran beberapa mikronutrien pada respons
imun telah dibuktikan pada berbagai penelitian. Defisiensi mikronutrien
tersendiri jarang ditemukan kecuali defisiensi besi, vitamin A dan zinc.
Defisiensi mikronutrien sering sebagai komponen malnutrisi energi protein dan
banyak penyakit sistemik. Lebih jauh, malnutrisi pada manusia biasanya
menyertai defisiensi nutrien yang multipel.
Menurut Chandra (1990) ada 5 konsep umum
mengenai peran beberapa vitamin dan trace element dalam kompetensi imun :
1.Perubahan respons imun terjadi dini
pada asupan mikronutrien yang rendah/ kurang.
2.Perluasan gangguan imunologik
bergantung dari tipe nutrien yang bersangkutan, interaksi dengan nutrien
esensial, beratnya defisiensi serta adanya infeksi yang menyertai dan usia
pasien.
3.Kelainan imunologik meramalkan risiko
infeksi dan mortalitas.
4.Pada kasus banyak jenis mikronutrien,
asupan yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan respons imun.
5.Uji kompetensi imun berguna untuk
titrasi kebutuhan fisiologis dan pengukuran batas keamanan terendah dan
tertinggi asupan mikronutrien.
Vitamin dan respons imun
Vitamin A
Vitamin A dikenal sebagai vitamin
antiinfeksi dan defisiensi vitamin A dapat menyebabkan peningkatan morbiditas
dan mortalitas. Karotenoid mempunyai fungsi imunoregulator limfosit T dan
limfosit B, sel Natural Killer dan makrofag. Vitamin A merupakan mikronutrien
penting yang diperlukan untuk fungsi kekebalan tubuh spesifik maupun nonspesifik.
Defisiensi vitamin A dilaporkan dapat menyebabkan gangguan kekebalan humoral
serta selular. Efek antioksidan karenoid ini secara tidak langsung dapat
meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dengan jalan menurunkan konsentrasi
partikel bebas beserta produknya yang bersifat imunosupresif. Dengan pencegahan
oksidasi leukosit, dapat menurunkan kadar prostaglandin yang bersifat
imunosupresif. Peningkatan asupan diet antioksidan dapat menurunkan konsentrasi
peroksidase lipid, konsentrasi prostaglandin yang diproduksi oleh makrofag yang
selanjutnya meningkatkan respons hipersensitivitas tipe lambat dan proliferasi
limfosit.
Vitamin A juga bersifat sebagai ajuvan
dengan jalan merusak membran lisosom yang dapat merangsang pembelahan sel pada
saat antigen berada dalam sel. Lisosom ini mempunyai peranan dalam memulai
terjadinya pembelahan sel. Kerusakan lisosom ini akan merangsang sistim imun.
Pembelahan sel akibat pemberian ajuvan terjadi hanya sebatas pada sel
imunokompeten yang dirangsang oleh ajuvan. Vitamin A berperan pada proses
epitelisasi. Dengan peningkatan proses ini, maka akan terjadi perbaikan fungsi
pertahanan fisik nonspesifik terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh.
Defisiensi vitamin A mengakibatkan berat
kelenjar timus sedikit berkurang, respons proliferasi limfosit terhadap mitogen
menurun, produksi antibodi spesifik dan proliferasi limfosit T invitro juga
menurun serta peningkatan aderen bakteri pada sel epitel saluran napas.
Vitamin B6
Defisiensi vitamin B6 dapat mempengaruhi
respons imun. Kelenjar timus mengecil dan aktivitas hormon timus menurun jika
terjadi defisiensi vitamin B6. Gangguan imunitas selular dibuktikan dengan
adanya kegagalan reaksi hipersensitivitas tipe lambat, penurunan sitotoksisitas
sel limfosit T dan rejeksi lambat alograft. Terdapat penurunan respons limfosit
terhadap mitogen dan antigen. Pembentukan antibodi setelah imunisasi primer dan
sekunder juga menurun. Defisiensi vitamin B6 sebagai penyakit tersendiri jarang
ditemukan.
Vitamin E
Defisiensi vitamin E yang berat dapat menyebabkan
gangguan CMI dan sintesis antibodi.
Zinc
Defisiensi zinc, baik didapat atau
diturunkan dihubungkan dengan atrofi limfoid, penurunan respons
hipersensitivitas tipe lambat dan rejeksi homograft serta aktivitas hormon
timus. Contoh yang paling baik adalah pasien akrodermatitis enteropatika yang
menunjukkan gangguan respons limfosit terhadap fitohemaglutinin, penurunan
aktivitas timulin serta menurunnya reaksi kulit hipersensitivitas tipe lambat.
Defisiensi zinc dapat menyebabkan
gangguan penghancuran mikroba (ingestion) dan fagositosis. Nutrien ini diduga
berperan pada stimuli nicotinamide adenine dinucleotide phosphate (NADPH)
oksidase, sebagai kofaktor untuk fosfolipase A2 dan atau fosfolipase C. Zinc
dapat menstabilkan 20 : 4 asam arakidonat terhadap oksidasi oleh kompleks besi.
Zinc dapat bereaksi dengan oksigen membentuk zat toksik terhadap patogen yang
ditelan oleh sel.
Defisiensi zinc juga dapat menghambat
penyembuhan luka. Defisiensi zinc dibuktikan meningkatkan angka kejadian
investasi parasit cacing nematoda.
Cuprum (Tembaga)
Defisiensi cuprum dibuktikan dapat
menyebabkan gangguan respons imun. Fungsi sistim retikulo endotelial tertekan
dan aktivitas mikrobisidal sel fagosit terganggu. Hal ini berhubungan dengan
peran cuprum dalam sistim superoksid dismutase dan enzim sitokrom oksidase.
Juga didapatkan penurunan respons antibodi terhadap antigen sel T dependen.
Ferum (Besi)
Defisiensi besi merupakan masalah
komponen nutrisi yang paling utama di seluruh dunia,bahkan juga di negara
industri/ maju. Di satu sisi, besi bebas diperlukan untuk pertumbuhan
bakteri.Pengikatan besi melalui pemberian laktoferin atau chelating agent lain
dapat mengurangi multiplikasi bakteri, terutama dengan adanya antibodi
spesifik. Di sisi lain besi diperlukan oleh sel Natural killer, neutrofil dan
limfosit untuk berfungsi secara optimal. Oleh karena itu pada defisiensi besi,
kapasitas bakterisidal akan menurun. Hal ini mungkin disebabkan enzim
mieloperoksidase dan sitokin yang bergantung besi.
Selain itu juga terdapat gangguan
proliferasi limfosit terhadap mitogen dan antigen, penurunan respons terhadap
antigen toksoid tetanus dan Herpes simplex dan terdapat perbaikan nyata setelah
pengobatan dengan besi. Gangguan proliferasi limfosit pada defisiensi besi
melalui defisiensi ribonukleotidil reduktase yang diperlukan untuk proliferasi
sel.
Apakah pemberian suplementasi besi dapat
meningkatkan risiko infeksi? Hal ini ternyata dibuktikan pada penelitian
invitro, tetapi data klinis tidak ada yang menunjang hipotesis tersebut.
Asam Amino
Asam amino memodulasi respons imun
melalui berbagai cara. Defisiensi beberapa jenis asam amino dapat menurunkan
respons antibodi. Didapatkan juga penurunan klirens makromolekul oleh sel
fagosit dari darah. Bukti akhir menunjukkan efek imunostimulan dan antiinfeksi
yang diperani oleh asam amino glutamin dan arginin.
Lipid
Banyak bukti menunjukkan bahwa lipid
mempunyai peran imunoregulator. Mekanismenya melalui modulasi sistem
eikosanoid, perubahan membran sel, perubahan jumlah dan kepadatan reseptor,
perubahan jumlah dan fungsi beberapa subpopulasi sel serta produksi dan kinerja
sitokin. Defisiensi asam lemak esensial akan menurunkan berbagai respons imun.
Sebaliknya, kelebihan lipid misalnya pada obesitas juga dapat menyebabkan
gangguan respons imun.
RINGKASAN
:
·
Vitamin adalah nutrisi organik dengan
fungsi metabolik esensial, yang umumnya dibutuhkan dalam jumlah sedikit pada
makanan karena vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh.
·
Vitamin larut lemak (A,D,E dan K) adalah
molekul hidrofobik yang membutuhkan absorpsi lemak normal untuk penyerapan yang
efisien dan mencegah timbulnya gejala akibat defisiensi.
·
Vitamin A (retinol) terdapat pada daging
dan provitamin (β-karoten) yang ditemukan pada tumbuhan dari retinaldehida yang
digunakan untuk penglihatan, dan asam retinoat yang berfungsi untuk mengontrol
ekspresi gen.
·
Fungsi vitamin A :
§ Siklus
visual (retinol, retinal : siklus opsin-rodopsin) : transformasi energi cahaya
·
Vitamin D adalah prohormon steroid yang
menghasilkan hormon aktif turunan kalsitriol untuk mengatur metabolisme kalsium
dan fosfat, defisiensi vitamin D menyebabkan rakitis dan osteomalasia.
·
Vitamin E (tokoferol) adalah antioksidan
yang paling penting dalam tubuh yang bekerja pada fase lipid di membran sebagai
pelindung terhadap efek radikal bebas.
·
Vitamin K berfungsu sebagai kofaktor
untuk karboksilase yang bekerja pada residu glutamat protein prekursor dari
faktor pembekuan dan protein tulang, sehingga keduanya dapat mengikat kalsium.
·
B kompleks adalah vitamin larut air yang
berfungsi sebagai kofaktor enzim. Tiamin adalah kofaktor pada dekarboksilasi
oksidatif dari asam α-keto dan niasin transketolase pada jalur fosfat pentosa.
Riboflafin dan iasin adalah kofaktor niasin dalam reaksi oksidoreduksi, secara
berturut-turut terdapat pada enzim flavoprotein sertadalam NAD dan NADP.
·
Asam patotenat terdapat dalam koenzim A
dan protein pembawa asil yang berfungsi sebagai pembawa kelompok asil pada
reaksi metabolik.
·
Piridoksin dan piridoksal fosfat adalah
koenzim untuk beberapa enzim pada metabolisme asam amino, termasuk
transaminase, dan glikogen fosforilase. Biotin adalah koenzim untuk beberapa
enzim karboksilase.
·
Vitamin C adalah anti-oksidan larut air
yang mempertahankan vitamin E dan banyak kofaktor logam dalam bentuk tereduksi.
·
Elemen mineral anorganik yang memiliki
fungsi dalam tubuh harus tersedia pada makanan. Jika asupannya tidak mencukupi,
akan terjadi difisiensi, dan jika berlebihan dapat menjadi racun.
·
Mineral terbagi menjadi 2 yaitu :
makromineral dan mikromineral
·
Makromineral (unsur makro) : mineral
yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam jumlah besar (biasanya lebih dari 100
mg/hari),seperti kalsium, magnesium, kalium, natrium dan fosfat.
·
Mikromineral (unsur mikro) : mineral
yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam jumlah sangat sedikit (biasanya
kkurang dari 100 mg/hari),seperti boron, kromium, tembaga, iodin, besi, mangan,
selenium, dan zink.
·
Makromineral memiliki banyak fungsi
biologis dalam tubuh, seperti :
§ Pemeliharaan
tekanan osmotik dan regulasi cairan dan keseimbangan elektrolit.
§ Regulasi
tonus vaskular, fungsi saraf, dan kontraksi otot.
§ Regulasi
pH intraseluler.
§ Mineralisasi
tulang dan gigi.
§ Koagulasi
darah.
§ Aktivasi
berbagai enzim
DAFTAR PUSTAKA
Murray, MD, PhD.
Biokimia Happer. Edisi 27, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, 2009.
Uwe Grober.
Mikronutrien Penyelaras Metabolik, Pencegahan Dan Terapi.Penerbit Buku
Kedokteran, 2012
F.G.Winarno.
Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta